Bisnis Besar dibalik Bencana Kemanusiaan, Ironi Negeri yang Kehilangan Empati

Jeumpa Media | Banda Aceh – Banjir dan Longsor yang melanda Sumatera membuat semua mata tertuju dan berempati. Bagi Aceh, kenangan Tsunami menjadi terngiang-ngiang kembali. Lebih parah kata mereka, karena Tsunami tidak menutup akses transportasi. Tapi bencana kali ini menghancurkan badan jalan dan jembatan.

Terisolir di sejumlah titik, air mata mengalir menyaksikan pemandangan sederet kerusakan dan proses sulitnya evakuasi. Semakin parah dengan laporan-laporan warga ketika ada yang merenggang nyawa karena lapar.

Aceh bukan Gaza, tak ada yang membombardir dari darat, laut dan udara. Heli dan kapal bisa, namun terbatas ucap mereka, pemerintah.

Akhirnya dari bencana yang mulai parah di tanggal 25 November, selama 6 hari ada warga yang masih tak bisa di evakuasi. Listrik mati, begitu juga jaringan internet. Sejumlah kerabat diluar Lokasi bencana sudah menjerit-jerit karena khawatir bagaimana neneknya, ibunya, anak kandung dan semua kerabat-kerabatnya.

Sejumlah warga yang bisa mengakses internet terus memviralkan duka bencana tanpa memfilter. Seakan-akan setiap hari air semakin tinggi atau tak surut. Menambah semakin risau.

Ribuan kayu-kayu gelondongan antri memperlihatkan dirinya sebagai bukti keserakahan.   Pemerintah tak berhenti dihujat. Ironi bahwa di negeri ini para pejabat sibuk memikirkan cara menguntungkan diri sendiri menjadi bahan kritikan sehari-hari. Tapi yang pasti pejabat tak sendiri, ingat rakyat juga mengikuti.

Lihatlah dalam musibah banjir kali ini, sejuk kita mendengar pernyataan Elon Musk pemilik jaringan komunikasi Starlink bahwa ia takkan mencari keuntungan dibalik bencana. Artinya biaya digratiskan hingga desember 2025.

Sayangnya pebisnis malah aji mumpung,  muncul ide baru. Berbisnis dibalik bencana kemanusiaan. Orang-orang yang tak bisa mengakses ATM karena mati Listrik terpaksa ke BSI link atau sejenisnya. Sekali tarik duit 10 % dari jumlah tarikan. Maka jika 500.000 artinya ada keuntungan 50 ribu. Wow riba kah?. Namun dalih tetap banyak, dari stok duit mereka terbatas dll.

Harga sembako juga demikian. Jika cabai segenggam dulu hanya 2 ribu, kini jadi 20 ribu. Luar biasa mahalnya. Alasan selalu sama yaitu langka. Intinya ketika langka, maka orang yang kesulitan karena musibah dianggap wajar bertambah susah.

Begitupun air dan BBM pasti jadi semua melambung setinggi langit. Jika BBM awalnya di eceran 10 ribu kini menjadi 30 ribu.

Kembali ke starlink tadi, kelebihan yang menjadi satu-satunya jaringan tanpa pilihan ditengah kabel optic fiber yang gagal bertahan ditengah bencana, membuat pebisnis merasa cerdas atau beruntung bak ketiban durian runtuh. Warkop misalnya, menarif 1 jam 5 ribu atau lebih meski ia juga minum kopi. Menarik bukan. Itulah kita, Indonesia.

Ditambah lagi minimnya inisiatif dan empati warga setempat, orang kaya banyak apalagi politisi yang telah menjadi kaya dan raya. Namun karena bukan masa kampanye pemilu. Alias tak ada lagi kebutuhan meminta suara, maka terbatas juga kepedulian. Mungkin andai musibah muncul menjelang Pemilu. Saya yakin banyak caleg yang berinisiatif sigap membuka dapur umum. Jika musibah tanggal 25, maka malamnya dapur umum sudah terbangun.

Sementara kini, beberapa kab/kota hanya bersuara, “kita butuh dapur umum” namun udah 5 hari berjalan dan warga kelaparan, dapur masih jadi wacana.

Orang menunggu bantuan pemerintah gampong, pemerintah gampong menunggu pemerintah Kota, pemerintah Kota menunggu Pemerintah Provinsi, pemerintah provinsi menunggu pemerintah pusat. Maka dipastikan hari ke 6 baru terbangun.

Maka di hari ke 6 itu, laporan warga kedinginan karena tak ada pakaian dan mati kelaparanlah yang mengoyak hati ketika terdengar. Inilah negeri yang berbisnis tanpa mengenal situasi bencana dan kehilangan empati.

Jika si pemilik toko dijarah, tentu rakyat yang salah namun pasti pasrah. Tapi jika keadaan baik-baik saja maka tipis hasrat membantu itu. Menurut si Kaya, rakyat itu urusan pemerintah.

Padahal negeri ini bertuhan. Ya Mayoritas beragama Islam. Menjaga alam juga bagian dari menjaga iman.  Orang-orang beriman sesuai sabda Rasulullah seperti satu tubuh, dimana satu yang sakit maka yang lain ikut merasakannya.

Mengapa keadaan saat ini seakan kita sesama Islam ini menjadi asing?

Kita lihat, bagaimana setelah musim panas tiba, air mengering. Jenazah telah terkubur dan duka pun menghilang. Kayu-kayu berserakan telah selesai diatasi.

Adakah perbaikan? Atau kondisi yang sama akan reuni di akhir tahun nanti?!.

Penulis : Sherly Maidelina, Aktifis Perempuan dan Kemanusiaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *