Temu Bilal Erdogan di Malaysia, The Keumala Optimis Majukan Panahan Tradisional Aceh

Jeumpa Media | Banda Aceh – The Keumala Traditional Archery sukses dalam berpartisipasi mengikuti event Malaysia International Traditional Archery Festival 2025 di Selangor pada 09-12 Oktober. Pada kesempatan emas berbincang langsung dengan putra presiden Turki yaitu Bilal Erdogan, The Keumala juga menyampaikan bahwa Aceh akan semakin optimis menggalakkan olahraga sunnah rasul tersebut.

Founder The Keumala, Sherly Maidelina yang juga salah satu peserta lomba mengatakan bahwa event internasional di Malaysia ini selain untuk menguji kemampuan dan mental tanding juga yang tak kalah penting membangun solidaritas sesama pemanah juga penambah semangat untuk memajukan olahraga tersebut,

“Ini event dunia pertama yang kami ikuti. Kali ini baru bisa memberangkatkan tiga orang karena keterbatasan anggaran. Dari sini kami memperkenalkan bahwa Aceh punya atlet dan Aceh juga bisa membesarkan olahraga ini sebagaimana Malaysia karena kecintaan Aceh terhadap olahraga sunnah tentu juga harusnya lebih dari Malaysia” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, perwakilan The Keumala yaitu Sherly Maidelina , Daffa Khairan dan Dewi Marlina mendapat kesempatan berbincang langsung dengan putra presiden Turki yaitu Necmettin Bilal Erdogan yang juga menjabat sebagai Presiden Konfederasi Etnosport Dunia (WEC) pada 12/10/2025.

“Kami menyampaikan bahwa kedepan kita akan mengadakan event dunia serupa di Banda Aceh serta meminta dukungan Mr Bilal, ia menyambut baik dan mendukung serta siap hadir ke Aceh,” tambah Sherly.

Adapun menurut srikandi panahan Aceh ini bahwa ketika pihaknya membuka komunikasi intensif dengan panitia dan para peserta , mereka terlihat antusias  untuk ke Aceh dimana tiket ke Banda Aceh murah dan jarak tempuh yang sangat dekat hanya sekitar satu jam.

” Kita sampaikan juga bahwa Aceh ini memiliki historis para pahlawan pemberani dari tanahnya bahkan putri dari pahang yaitu kita kenal putroe phang juga menjadi istri raja Aceh yaitu sultan Iskandar Muda. Maka dari historis Turki, sebagai negara asal panahan tradisional dan juga Malaysia yang begitu berkembang olahraga tersebut, sudah sepantasnya Aceh menyusul karena pemanah adalah simbol keberanian”. pungkas Sherly di Banda Aceh , Kamis 23/10/2025).

foto bersama para peserta lomba MITAF Malaysia hari kedua di lapangan taman Bandar Kwasa Damansara, Selangor.(11/10/2025). 

Event Mitaf ini juga dihadiri beberapa negara yaitu Turki, Singapore, Mongolia, Korea Selatan, Australia, Amerika, Brunei Darusalam, Indonesia. Untuk para pemenang sendiri di dominasi oleh Malaysia, Indonesia dan Turki dengan jumlah peserta sekitar 1000 lebih.

Minimnya Perhatian Pemerintah Aceh

Meski kental dengan Syari’at Islam, faktanya di Aceh olahraga sunnah ini masih sangat kurang diperhatikan. Turki dan Malaysia adalah contoh negara yang memperhatikan penuh kemajuan olahraga panahan yang merupakan warisan budaya.

Dewi Marlina, pengurus The Keumala merasakan dampak kontras perbedaan sikap orang malaysia ketika mendengar panahan dibanding Indonesia.

“Jadi di bandara Malaysia itu sangat lancar, begitu kita sampaikan ke petugas mau mengikuti lomba panah mereka langsung bilang wow bagus, itu olahraga sunnah. Dan rombongan kami begitu cepat diperiksa. Juga tak lupa didoakan menang. Lancar bahkan dibagian alat juga tidak ada kendala di bea cukainya.

Berbeda ketika kami sampai Aceh, itu ketat. Tas panah juga diperiksa detail , diprotes juga karena tidak melapor sebelumnya ke kantor bea cukai dan tidak ada terlihat rasa antusias untuk menanyakan kabar gimana lomba kami.

Sementara malaysia mereka seakan melihat kami seperti rombongan pahlawan. Dari situ kami bertekad untuk menjadi penyemangat dalam memajukan olahraga ini” ujarnya.

Dewi juga menyayangkan karena pihaknya hampir sebulan melakukan proses audiensi untuk mendapat dukungan baik dari pemerintah Aceh maupun Kota Banda Aceh namun pemerintah dengan agendanya mengaku sangat sibuk.

“Kita sudah surati Walikota Illiza, juga menjadwalkan untuk bertemu Sekda Aceh, Wagub, DPRA semuanya tidak ada jawaban. Bahkan berhari-hari kami menunggu jawaban dari ajudan tapi tetap saja belum membuahkan hasil dalam mendapat dukungan pemerintah sampai lomba selesai.

Tapi alhamdulilah di detik akhir menjelang event dimulai kita dapat dukungan CSR dari BSI dan Solusi Bangun Andalas (SBA) untuk membantu tiket  ” tutup Dewi.

Adapun meski minimnya dukungan Pemerintah, The Keumala bertekad untuk terus melakukan koordinasi dan mendapat dukungan pemerintah Aceh karena Aceh tentu harus bisa melebihi antusias Malaysia dalam menjaga warisan budaya olahraga Islam ini yang tidak hanya simbol keberanian namun juga identitas bangsa. * (And)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *