Jeumpa Media | Takengon- Bencana tanah longsor dan banjir bandang yang terjadi pada Rabu malam, 26/11/2025, di Desa Linge, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, membuat puluhan peserta Festival Neggeri Linge terjebak selama beberapa hari di wilayah pegunungan tersebut.
Rombongan peserta yang terdiri dari anak Mapala, sejumlah wartawan, Tim HAKA Aceh, komunitas pecinta alam, LPHD Wak Pondok Sayur, LPHD Bale Redelong, serta perwakilan desa dampingan HAKA, harus menempuh perjalanan darat ekstrem selama tiga hari untuk keluar dari lokasi bencana.
Perjalanan Pulang Dimulai 29 November
Menurut kesaksian salah satu peserta, Asmara, tim mulai meninggalkan Desa Linge pada Sabtu, 29/11/2025. Akses utama terputus total setelah jembatan Kala Ili roboh, sehingga rombongan terpaksa menyeberangi sungai menggunakan perahu arung jeram.
“Setelah menyeberang sungai dengan boat, kami berjalan kaki sekitar lima kilometer sebelum akhirnya bisa mendapatkan mobil menuju Desa Wak,” ujar Asmara.
Sebagian anggota melanjutkan perjalanan, sementara sisanya menginap di bangunan SMA di Desa Wak untuk beristirahat.
Longsor 400 Meter: Anggota Pingsan dan Syok
Pada 30/11/ 2025, rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Tantangan besar muncul saat mereka harus melewati longsor sepanjang kurang lebih 400 meter. Kondisi ini memicu kelelahan ekstrem pada beberapa peserta.
“Dalam melewati longsor itu, beberapa anggota kami pingsan akibat syok dan kelelahan,” ujar Asmara Piana.
Rini, peserta dari Beutong Ateuh, pingsan lebih dari dua jam. Asmara dan rekannya, Wak Dul, berusaha keras menyadarkannya dengan berbagai cara hingga akhirnya ia kembali siuman.
Yumni dari LPHD Bale Redelong juga sempat pingsan, namun cepat pulih. Ibu Beti yang mereka anggap sebagai sosok ibu dalam rombongan mengalami syok berat dan hampir pingsan karena kelelahan.
Bantuan warga setempat sangat membantu proses evakuasi kecil-kecilan yang dilakukan rombongan di tengah perjalanan tersebut.
Kejadian Tak Terduga: Kesurupan dan Perjalanan Malam
Setelah beristirahat, perjalanan dilanjutkan hingga malam hari. Dalam situasi lelah dan tegang, kejadian tak terduga muncul ketika salah satu anggota tim mengalami kesurupan menjelang waktu Magrib.
“Kejadian serupa bahkan terjadi beberapa kali sepanjang jalan,” tambah Asmara.
Malam itu, tim memilih beristirahat di Desa Kemerleng dan menginap di rumah salah satu warga yang ternyata merupakan teman kuliah Asmara.
Hari Ketiga: Masih Melewati Longsor
Perjalanan berlanjut pada Senin, 1/12/ 2025, masih dengan kondisi medan yang berat dan dipenuhi longsor. Untuk mempermudah perjalanan para perempuan dan ibu-ibu, Asmara berkali-kali menghentikan sepeda motor warga demi membantu mengangkut mereka agar tidak semakin kelelahan.
Peran Wak Dul: Menggendong Peserta yang Sakit
Di tengah situasi sulit ini, sosok Abdol akrab disapa Wak Dul, yang juga menjadi koordinator tim memainkan peran besar. Ia bahkan rela menggendong anggota tim yang jatuh sakit akibat kondisi ekstrem dan kejadian yang tak terduga.
“Wak Dul benar-benar sangat berjasa, ia berkali-kali menggendong anggota yang sakit, bergantian dengan yang lainnya,” ungkap Asmara.
Akhirnya Berhasil Keluar dari Linge
Perjalanan selama tiga hari menuju Takengon menjadi pengalaman penuh perjuangan yang meninggalkan banyak hikmah bagi seluruh peserta. Meski menghadapi medan ekstrem, kelelahan, musibah, serta kejadian tak terduga, mereka akhirnya berhasil keluar dari wilayah terdampak bencana dengan selamat.
“Kami merasakan langsung arti kebersamaan, saling menolong, dan kekuatan mental dalam menghadapi situasi seperti ini,” ujar Asmara.(piana)
