Trump Ingin Ikut Tentukan Pemimpin Baru Iran, Tolak Putra Khamenei dan Dorong Skenario “Venezuela”

Jeumpa Media | Amerika Serikat- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terang-terangan menyatakan keinginannya ikut campur dalam proses penentuan pemimpin tertinggi Iran setelah kematian Ali Khamenei.

Pernyataan itu langsung memicu kontroversi internasional karena pemilihan pemimpin tertinggi Iran secara resmi merupakan urusan domestik negara tersebut.

Dalam wawancara dengan Axios, Trump bahkan secara terbuka menolak kemungkinan putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, naik menggantikan ayahnya. Ia menyebut sosok tersebut tidak pantas memimpin Iran dan menilai proses suksesi yang sedang dibicarakan hanya membuang waktu.

Trump menegaskan bahwa dirinya merasa perlu ikut menentukan arah kepemimpinan Iran ke depan. Menurutnya, Washington tidak akan menerima pemimpin baru yang melanjutkan garis keras Khamenei karena hal itu berpotensi kembali memicu konfrontasi dengan Amerika Serikat.

Ia menambahkan bahwa AS menginginkan sosok pemimpin Iran yang lebih moderat dan bersedia membawa negara itu menuju hubungan yang lebih harmonis dengan dunia luar.

Trump Dorong Skenario “Venezuela”

Dalam sejumlah pernyataan lain, Trump juga menyinggung pengalaman Amerika Serikat dalam perubahan kekuasaan di Venezuela sebagai model yang menurutnya patut ditiru di Iran.

Ia merujuk pada operasi militer AS yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, pada Januari lalu. Setelah peristiwa itu, kursi kepemimpinan negara tersebut diambil alih oleh wakil presidennya saat itu, Delcy Rodríguez.

Trump memuji perkembangan tersebut dan menilai pendekatan tersebut berhasil menjaga pemerintahan tetap berjalan sambil membuka ruang kebijakan baru yang lebih sejalan dengan kepentingan Washington.

Di bawah kepemimpinan Rodríguez, Venezuela kemudian mengambil sejumlah langkah yang menguntungkan AS, termasuk membuka kembali penjualan minyak ke Amerika dan menghentikan pasokan minyak ke Kuba di tengah ancaman serangan lanjutan dari Washington.

Trump mengisyaratkan bahwa ia berharap menemukan figur serupa di Iran—seseorang dari dalam sistem yang bersedia bekerja sama dengan kepentingan Amerika.

Iran Bukan Venezuela

Namun, banyak pihak menilai pendekatan tersebut sulit diterapkan di Iran. Berbeda dengan operasi singkat di Venezuela, situasi di Iran jauh lebih kompleks karena negara itu sedang berada dalam konflik terbuka dengan Amerika Serikat dan Israel.

Selain itu, jabatan pemimpin tertinggi Iran memiliki persyaratan khusus yang tidak hanya bersifat politik, tetapi juga religius. Kandidatnya harus berasal dari kalangan ulama Syiah dengan legitimasi keagamaan tertentu.

Pemerintah Iran sendiri sebelumnya telah menegaskan tidak ada pembicaraan apa pun dengan Washington di tengah konflik yang masih berlangsung. Bahkan, pejabat pemerintahan Trump sebelumnya menyebut AS sedang menghujani Iran dengan “kematian dan kehancuran”.

Dengan situasi yang masih memanas, belum jelas bagaimana Trump benar-benar bisa mewujudkan ambisinya ikut menentukan pemimpin baru Iran.

Trump Ingin Iran Menyerah

Analis hubungan internasional dari Quincy Institute for Responsible Statecraft, Trita Parsi, menilai pernyataan Trump menunjukkan keinginan Washington untuk memaksa Iran tunduk secara politik.

Menurutnya, Trump tampaknya tidak mempermasalahkan siapa yang memimpin Iran selama sosok tersebut bersedia menjalankan agenda kebijakan Amerika—seperti yang ia nilai terjadi pada pemerintahan Delcy Rodríguez di Venezuela.

Parsi juga menilai kecil kemungkinan figur seperti itu muncul dari sistem politik Iran saat ini.

Sikap Trump tersebut juga dinilai kontras dengan pernyataan sebelumnya yang menyerukan “kebebasan” bagi rakyat Iran dan mendorong mereka untuk bangkit melawan pemerintahnya sendiri.

Di tengah ketegangan yang terus meningkat, Trump bahkan belum menutup opsi pengerahan pasukan darat Amerika ke wilayah Iran.

Ia juga mengklaim sebelumnya telah memiliki beberapa kandidat potensial untuk menggantikan Khamenei. Namun, menurutnya, orang-orang tersebut sudah tewas dalam gelombang serangan awal yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *