Jeumpa Media | Jakarta – Presiden RI, Prabowo Subianto, kembali melontarkan pernyataan berani soal masa depan energi Indonesia. Di tengah melonjaknya harga minyak dunia akibat memanasnya konflik antara Iran melawan aliansi Israel dan Amerika Serikat, Prabowo menegaskan ambisinya: Indonesia suatu saat tak lagi bergantung pada impor BBM.
Dalam peresmian jembatan pada Senin (9/3/2026), Prabowo menyinggung potensi besar tanaman lokal sebagai sumber bahan bakar alternatif. Ia menyebut komoditas seperti kelapa sawit, singkong, jagung, hingga tebu bisa menjadi jalan bagi Indonesia untuk memproduksi energi sendiri.
Menurutnya, gagasan swasembada energi telah lama ia perjuangkan. Ia optimistis kekayaan alam Indonesia mampu menggantikan ketergantungan terhadap minyak impor.
Prabowo juga mengaitkan kemandirian energi dengan ketahanan pangan nasional. Ia mengklaim Indonesia telah mencapai swasembada beras dan segera mampu memenuhi kebutuhan protein dalam negeri. Di tengah ancaman krisis global, ia menilai Indonesia setidaknya bisa tetap aman dalam urusan pangan.
Pernyataan tersebut muncul saat pasar energi dunia bergejolak. Harga minyak mentah global melonjak menembus US$100 per barel—level tertinggi sejak Invasi Rusia ke Ukraina 2022—dipicu kekhawatiran terganggunya distribusi minyak Timur Tengah akibat konflik di kawasan itu.
Minyak acuan Brent tercatat naik sekitar 12,63 persen ke level US$104 per barel, sementara minyak mentah Amerika Serikat melesat hingga 14,7 persen.
Situasi ini kembali memunculkan pertanyaan besar: mampukah Indonesia benar-benar lepas dari jerat impor energi dengan mengandalkan bahan bakar dari tanaman?.(*)
