Jeumpa Media | Taheran – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah kepemimpinan militer Iran mengeluarkan peringatan keras pada Minggu, (8/3/2026). Teheran secara terbuka mengancam akan menargetkan instalasi minyak di seluruh kawasan jika serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap infrastruktur energi Iran terus berlanjut.
Ancaman tersebut disampaikan oleh markas komando gabungan angkatan bersenjata Iran, Khatam al-Anbiya Central Headquarters, melalui Iranian Students News Agency (ISNA). Pernyataan itu menjadi sinyal terbaru bahwa konflik yang tengah memanas berpotensi berubah menjadi konfrontasi regional yang lebih luas.
Dikutip dari Yeni Safak pada Senin, 9 Maret 2026, pihak militer Iran menyebut operasi militer Amerika Serikat dan Israel sebagai “gelombang baru agresi brutal” yang secara sengaja menargetkan fasilitas bahan bakar, infrastruktur energi, serta layanan penting yang menopang kehidupan sipil di Iran.
Dalam nada yang semakin keras, militer Iran juga menyerukan negara-negara Islam di kawasan agar tidak tinggal diam. Mereka didesak untuk menekan Washington dan Tel Aviv agar segera menghentikan serangan terhadap fasilitas minyak Iran.
Jika seruan tersebut diabaikan, Teheran memperingatkan bahwa serangan balasan terhadap infrastruktur energi di kawasan bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan opsi nyata. Iran bahkan mengisyaratkan bahwa eskalasi konflik dapat mengguncang pasar energi global, dengan harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga melampaui 200 dolar AS per barel.
Situasi semakin memanas setelah Israel melancarkan serangan udara pada Sabtu yang menargetkan depot penyimpanan minyak dan fasilitas pemurnian di Teheran. Serangan ini menandai perluasan signifikan dalam daftar target militer Israel.
Ini juga menjadi pertama kalinya Israel secara langsung menghantam infrastruktur energi Iran sejak memulai operasi militer bersama Amerika Serikat pada pekan sebelumnya.
Rangkaian konflik tersebut merupakan bagian dari eskalasi yang bermula pada 28 Februari. Serangan gabungan saat itu dilaporkan menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta menyebabkan lebih dari 10.000 orang lainnya terluka, menurut otoritas Iran.
Sebagai respons, Teheran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan, termasuk Irak, Yordania, dan beberapa negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.
Ancaman Iran untuk memperluas sasaran serangan ke fasilitas minyak regional kini dipandang sebagai eskalasi besar yang berpotensi mengguncang stabilitas energi global. Jika konflik terus melebar, bukan hanya Timur Tengah yang terdampak, tetapi juga pasar energi dunia.
Negara-negara Teluk Arab yang menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika sekaligus pusat produksi energi global berada di posisi paling rentan. Jika perang benar-benar meluas, kawasan ini bisa berubah dari pusat energi dunia menjadi medan konflik terbuka.
