Klaim Nol Tenda dari Prabowo Subianto Dipertanyakan: Warga Aceh Masih Bertahan di Pengungsian

Jeumpa Media | Aceh Tamiang- Di tengah klaim pemerintah pusat tentang pemulihan yang “nyaris sempurna”, realitas di lapangan justru menyisakan tanda tanya besar.

Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan bahwa kondisi pascabencana di Aceh Tamiang telah pulih dengan sangat cepat, bahkan menegaskan tidak ada lagi warga yang tinggal di tenda pengungsian. Pernyataan itu disampaikan usai pelaksanaan salat Idulfitri 1447 H, Sabtu (21/3/2026).

Dalam suasana Lebaran yang penuh harap, Prabowo menyampaikan optimisme bahwa situasi telah terkendali. Ia menegaskan bahwa seluruh penyintas disebut sudah keluar dari tenda dan mulai menempati hunian sementara maupun permanen. Bahkan, menurutnya, pemulihan infrastruktur seperti listrik hampir sepenuhnya rampung, menyisakan hanya beberapa desa dengan kendala.

Tak hanya itu, Presiden juga menyampaikan apresiasi besar kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari TNI, Polri, hingga kementerian dan pemerintah daerah, yang dinilai telah bekerja “luar biasa” dalam menangani dampak bencana di berbagai wilayah, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Namun di balik pernyataan optimistis tersebut, laporan dari berbagai media lokal justru menghadirkan gambaran yang kontras.

Ribuan korban banjir di sejumlah wilayah Aceh disebut masih bertahan hidup di tenda-tenda darurat, meski bencana telah terjadi sejak akhir November 2025—hampir empat bulan berlalu tanpa kepastian yang jelas. Kondisi ini menghadirkan ironi tajam di tengah euforia Lebaran.

Ketika sebagian masyarakat sibuk bersiap menyambut hari kemenangan dengan membersihkan rumah dan menyiapkan hidangan, para penyintas justru masih bergulat dengan keterbatasan fasilitas, minimnya kenyamanan, dan ketidakjelasan masa depan.

Di Kabupaten Bireuen, misalnya, sejumlah pengungsi bahkan harus merayakan Idulfitri di tenda darurat yang berdiri di halaman kantor bupati. Lebaran yang seharusnya identik dengan kebahagiaan berubah menjadi potret getir tentang harapan yang belum juga terjawab.

Perbedaan antara klaim pemerintah dan realitas di lapangan ini pun memunculkan pertanyaan yang tak bisa diabaikan: apakah pemulihan benar-benar telah tuntas, atau justru masih menyisakan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan?.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *