Jeumpa.com | Banda Aceh – Cerita-cerita orang Aceh di masa lalu senantiasa memantik tawa sekaligus berisikan ajaran kehidupan yang sangat bermakna, nilai-nilai sastrawi tak juga luput sebagai khasanah yang ditinggalkan oleh orang Aceh dahulu, melalui buku kumpulan ‘Haba Jameuen Ureueng Aceh’ berupa kisah orang Aceh masa lalu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh (Disbudpar) mengapresiasi tulisan selaku editor oleh Alm. Mohd. Kalam Daud, dilounching sore tadi, Sabtu (3/2/2024).
Buku kumpulan cerita berbahasa Aceh yang diberi judul ‘Si Amad Jak Tungge’e Utang bak Tuhan’ terbit Desember 2023, Cetakan Pertama yang dilounching di kawasan Pango, Banda Aceh berjumlah 262 halaman dieditori oleh Mohd. Kalam Daud, asisten editor M Yusuf Bombang (Ap Kaoy) dan Penyelaras Bahasa oleh Nab Bahany As yang sekaligus saat lancing dilangsungkan Nab Bahany menjadi pemapar/narasumber buku berbahasa Aceh tersebut.
Pada sampul buku yang diilustrasikan perwajahannya oleh pelukis Iswadi Basri dan lay out oleh Khairul Umami sudah terlihat kesan yang muncul buku tersebut secara abstrak memunculkan rasa penasaran, jika diterjemahkan judulnya sendiri telah cukup menggelitik, yakni ‘Si Amad Hendak Menagih Hutang pada Tuhan’.
Sebagaimana komentar TA. Sakti sejarawan dan sastrawan Aceh yang berkesempatan hadir, kumpulan cerita di dalamnya memang cukup memiliki daya tarik, ia juga sangat mengapresiasi terbitnya buku tersebut yang menurut pengakuannya bahwa sejak lama pula semasa dahulu pernah mencoba menerbitkan di penerbit indie, perjalanan terbitnya buku akhirnya berhasil melalui Disbudpar Aceh, “Alhamdulillah”, katanya.
Melalui pemaparannya, Nab Bahany menyampaikan terkait isi buku memang diperlukan pemahaman yang mendalam soal penggunaan bahasa Aceh, nilai sastrawi bahasa Aceh penting untuk dipertahankan, terutama dalam upaya penulisan ulang karya-karya lisan apalagi karya tulisan untuk nantinya menjadi bacaan berbahasa Aceh yang tetap terasa orisinil, itu juga merupakan tantangan penyelarasan bahasa yang ia alami.
Sementara itu, peserta lounching buku, Wina SW1 menganggap buku tersebut sangat penting untuk dibaca khususnya untuk mengetahui, juga mengenal lebih jauh perkembangan budaya di masa lampau.
Nilai yang terkandung juga bermanfaat untuk diterapkan di masa kini, selain memberikan penghiburan bagi pembaca, mengenal asal mula nama tempat dan lainnya, ia juga menanyakan di mana dapat diperoleh buku tersebut, apakah diperjualbelikan.
Nab Bahany menjelaskan bahwa buku Haba Jameun Ureueng Aceh tidak diperjualbelikan, karena diterbitkan oleh dinas dalam hal ini Disbudpar Aceh, bagi yang berminat dipersilahkan mengunjungi Disbudpar Aceh bila ingin memiliki buku tersebut.
Fauzan Santa selaku moderator menyampaikan upaya pengembangan bahasa Aceh melalui penerbitan buku berbahasa Aceh sejenis buku yang dilaunching pada kesempatan tersebut merupakan hal yang patut sama-sama diapresiasi, terutama kepada Disbudpar Aceh atas upaya nyata mengembangkan dan memajukan bahasa Aceh.
Ia juga menguraikan penggunaan bahasa Aceh dalam konteks karya tulis bahasa Aceh kerap digunakan dialek Aceh Pesisir Timur, menurutnya hal itu paling mendekati bahasa Melayu, sehingga upaya keterbacaan dan pemaknaan bahasa Aceh yang digunakan penulis karya berbahasa Aceh lebih mendapatkan potensi formalisme.
Kehadiran 20 cerita-cerita pilihan orang Aceh dalam buku ini menurut informasi pada buku oleh Mohd. Kalam Daud cukup merefleksikan Aceh secara luas, para pemilik naskah cerita sebagaimana disampaikan editor adalah berasal dari beberapa wilayah seperti Aceh Jaya, Aceh Besar, Bireuen, Panton Labu (Aceh Utara), Aceh Selatan, Beutong, Sabang Pidie dan tentu saja Banda Aceh.
Naskah buku yang awalnya adalah pengikut serta sayembara menulis berbahasa Aceh sempat hilang akibat Gempa dan Tsunami 2004 yang melanda Propinsi Aceh dan akhirnya terselamatkan, Mohd. Kalam Daud lalu berupaya menyalin ulang naskah itu menjadi sekumpulan cerita, sehingga bisa dianggap perjalanan nyaris dua puluh tahun lebih naskah tersebut baru akhirnya berhasil diterbitkan.
‘Kami selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh merasa terharu dengan masih ada di antara kita yang masih memberikan perhatian kepada bahasa Aceh, dengan sepenuh daya upaya ditulis cerita-cerita zaman dahulu dalam bahasa Aceh…’
Harapan kami, dengan adanya buku ini menjadi sebuah inspirasi dan motivasi bagi semua orang Aceh, untuk kembali mengalakkan menulis dalam bahasa Aceh, supaya bahasa Aceh tetap hidup dalam pembicaraan keseharian, semoga buku ini berguna bagi kita semua,’ tutup Kepala Disbudpar Aceh Al-Muniza Kamal, S. STO, M. Si sebagaimana yang tertuang dalam Kata Sambutan buku.
Hadir juga dalam lounching buku Alm. Mohd. Kalam Daud keluarga almarhum istri berikut kedua anaknya. Para peserta sebagian besar merupakan kalangan sastrawan Aceh, seniman dan budayawan.
