4 Fakta Panglima Perempuan Aceh Teungku Fakinah

Jeumpa.com – Rakan Jeumpa, Tau gak sih kalau Teungku Fakinah adalah salah satu nama pahlawan perempuan asal Aceh yang cukup terkenal di abad ke 19. Meski seorang Perempuan, namun gelar Teungku telah tersemat padanya sejak ia masih muda.

Apa saja fakta menarik tentang Teungku Fakinah, berikut Jeumpa rangkum :

Biodata Tengku Fakinah

Tengku Fakinah adalah seorang ulama besar dan pejuang dari Aceh. Beliau lahir di Mukim Lamkrak, Desa Lamdiran, Kampung Lambeunot, Aceh Besar pada tahun 1856. Teungku Fakinah atau juga dikenal dengan nama Teungku Faki adalah seorang wanita yang menjadi ulama besar, pahlawan perang ternama.

Dikutip dari kompas, disebutkan bahwa Teungku Fakinah adalah anak dari Datuk Muhammad dan Cut Fathimah. Datuk Muhammad adalah seorang petinggi Kesultanan Aceh, sekaligus pendiri dari pesantren atau sekolah di Lamdiran, Aceh Besar. Di sisi lain, Cut Fathimah yang merupakan ibu dari Teungku Fakinah adalah putri dari seorang ulama dan tokoh pendidikan Aceh yang bernama Teungku Muhammad Sa’at atau Teungku Chik Lampucok.

Mendapat Gelar Teungku

Tengku adalah gelar kebangsawanan Melayu yang otomatis melekat pada seorang laki-laki dan perempuan keturunan dari sultan-sultan dan para raja-raja di Kerajaan Melayu. Tulisan “Tengku” di awal nama setiap orang Melayu merupakan status yang menandakan kedudukannya dalam masyarakat adat Melayu.

Dikutip dari Mubadalah bahwa gelar Tengku dalam kaitannya dengan dayah (madrasah/pesantren). Bagi rakyat Aceh merupakan panggilan bagi orang ‘alim atau memiliki pengetahuan agama (ulama). Meskipun istilah Teungku juga di gunakan sebagai panggilan untuk laki-laki Aceh. Gelar “Teungku” yang melekat pada Teungku Fakinah karena beliau adalah seorang ulama yang ‘alim dan bijaksana.

Beliau menguasai ilmu dari berbagai kitab-kitab fiqih Sunni, akhlak-tasawuf, tafsir AlQur’an dan hadits.Teungku Fakinah atau sering disebut Teungku Inong (ulama perempuan) adalah sosok perempuan, seorang istri, dan pemimpin lembaga pendidikan Islam (berbentuk pondok pesantren/dayah). Serta menjadi panglima perang.

Panglima Perang Melawan Belanda

Perjuangan Teungku Fakinah melawan Belanda dimulai pada tahun 1873, ketika suaminya Teungku Ahmad yang merupakan seorang pejuang yang membuka perguruan agama di Lamkrak gugur dalam peperangan melawan Belanda.

Mula-mula, Teungku Fakinah berjuang di belakang layar dengan membentuk suatu badan amal pada tahun 1873. Namun, seiring berjalannya waktu, badan amal bentukan Teungku Fakinah ini semakin berkembang hingga banyak perempuan dari berbagai wilayah Aceh yang ikut bergabung.

Akan tetapi, setelah sekian lama berjuang dari balik layar, Teungku Fakinah menjadi tidak sabar dan ingin ikut serta mengangkat senjata melawan Belanda. Langkah pertama beliau dimulai dari menghadap Sultan Aceh, Sultan Daud Syah untuk meminta izin membentuk pasukan.

Setelah mendapat izin dari Sultan, Teungku Fakinah membentuk pasukan yang terdiri dari empat regu atau batalion, yang salah satu regunya terdiri dari kaum perempuan. Salah satu tokoh perempuan yang ikut bergerilya bersama Teungku Fakinah adalah Tjoet Nyak Dhien (Cut Nyak Dhien).
Teungku Fakinah dan Cut Nyak Dhien menjadi tokoh wanita yang rela bergerilya demi mengusir Belanda dari tanah Aceh.

Kontribusi Dalam Pendidikan

Perjuangan gerilya Teungku Fakinah membuat prihatin Panglima Polem. Panglima Polem merasa bahwa Teungku Fakinah tidak harus bergerilya sehingga kemudian Panglima Polem meminta Teungku Fakinah untuk berhenti bergerilya dan fokus pada pendidikan.

Menuruti saran Panglima Polem, Teungku Fakinah pun kembali ke Lamkrak pada 21 Mei 1910 ketika beliau berusia 54 tahun dengan disambut meriah oleh seluruh warga desa. Di sana, Teungku Fakinah membuka kembali Dayah milik ayahnya.

Lembaga pendidikan agama Teungku Fakinah berdiri pada tahun 1911, yang merupakan satu-satunya lembaga yang dipimpin oleh perempuan. Santri yang belajar agama di sana tidak hanya remaja perempuan, tetapi juga para janda yang ditinggal mati suaminya dalam perang.

Setelah itu, banyak perempuan datang dari berbagai wilayah Aceh untuk belajar di Dayah asuhan Teungku Fakinah. Seperti dari Meulaboh, Calang, Aceh Timur, Pidie, dan berbagai daerah Aceh lainnya.

Teungku Fakinah wafat pada pada tahun 1938, ketika beliau berusia 82 tahun. Beliau sempat menghabiskan tiga tahun di Mekkah guna memperdalam pengetahuan ilmu agama pada tahun 1915-1918, sebelum kembali ke tanah kelahiran untuk mengabdikan dirinya di bidang pendidikan dan mengurus Dayahnya. (Tsy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *