9 Persen atau hanya 7 Srikandi Duduki DPRA, Ini Profil Singkatnya

Jeumpa Media | Banda Aceh  –  Dari 10 Dapil dan ada total 81 kursi yang tersedia untuk porsi Legislatif di DPR Aceh, mirisnya hanya 7 srikandi atau perwakilan caleg perempuan yang mampu melaju sebagaimana dirangkum Jeumpa Media, Kamis (21/3/2024).

Kuatnya persaingan meraih suara dan hanya mencapai 9 % keterwakilan perempuan di DPRA menunjukkan animo pemilih masih belum menganggap pentingnya peran perempuan pada lembaga perwakilan rakyat tersebut. Padahal dari total jumlah pemilih tetap di Aceh, pemilih perempuan lebih banyak dari laki-laki.

Lemahnya Animo Pemilih Perempuan Memilih Perempuan

Tindakan afirmatif yaitu pencalonan 30 % perwakilan perempuan sebagai anggota legislatif pertama kali dicantumkan dalam UU No 12 tahun 2003 tentang Pemilihan Umum. Hal itu tentu untuk meningkatkan kesetaraan agar kepentingan-kepentingan perempuan juga dapat terakomodir oleh sesamanya.

Untuk Aceh, setelah rapat Pleno KIP Aceh Rabu (13/3/2024) tentu ada 7 Srikandi  yang terprediksi bakal duduki kursi tersedia. Dari 10 dapil hanya ada 5 dapil saja dan pastinya dengan metode sainte lague untuk menentukan sang pemenang kursi, maka ketujuh srikandi yang lolos patut mendapat apresiasi atas upaya hebat meraih suaranya.

Berikut profil singkat mereka yang dirangkum oleh Jeumpa Media.

Tokoh Yang Mengusung Kesetaraan

Nama pertama dari Dapil 1 DPRA meliputi Kota Banda Aceh, Aceh Besar dan Kota Sabang yaitu Tatie Meutia Asmara, S.K.H., M.Si. dari partai Keadilan Sejahtera ( PKS ).

Dalam karir berpolitik Tatie semakin dikenal setelah berhasil terpilih menjadi anggota DPRK Banda Aceh periode 2019-2024 melalui dapil 4 (Banda Raya-Jaya Baru). Ibu dari 4 anak ini sebelumnya juga mendapat kepercayaan  oleh partainya  untuk diangkat sebagai ketua sementara DPRK Banda Aceh periode 2019-2024.

Lahir di Langsa 19 Januari 1977, karir Tati pada awalnya yaitu seorang guru dan pernah bekerja sebagai Panwas Kecamatan Jaya Baru. Selanjutnya, ia juga aktif bergerak di organisasi perempuan dengan aktif mengusung tema kesetaraan di organisasi. Adapun organisasi yang digeluti Tatie yaitu  Ketua Ikatan Pengusaha Muslim Indonesia (IPMI) Aceh, BKOW Aceh, KPPI (Kaukus Perempuan Politik Indonesia), Badko HMI Aceh, dan lainnya.

Keberhasilan Tatie meraup suara tentu salah satunya karena dedikasinya telah terlihat dari keaktifannya selama ini di masyarakat. Dari 11 kursi tersedia, hanya Tatie lah perempuan yang mampu melaju serta dari sebelumnya di DPRK kini ia berhasil lolos ke jenjang lebih tinggi yaitu DPRA.

DAPIL 4 dan 6 Mencukupi Kuota 30 % Keterwakilan Perempuan

Srikandi terpilih berikutnya adalah Diana Putri Amelia, S.M., dari partai Golkar. Dara kelahiran 5 April 1999  Kampung Pondok Gajah, Kecamatan Bandar, Kabupaten Bener Meriah ini, merupakan  sosok caleg DPR Aceh termuda. Ia meraup perolehan suara terbanyak di Dapil 4 Aceh Tengah dan Bener Meriah pada pemilu tahun ini.

Diana merupakan tamatan Strata Satu (S1) manajemen bisnis dari Universitas Muhammadiyah, Medan Sumatera Utara. Ia juga alumni Pondok Pesantren Al Kautsar Al Akbar Medan yang menempuh pendidikan selama 6 tahun. Belum banyak info tentang dara yang baru berusia 25 pada tahun ini, namun strateginya dalam memperoleh suara teratas tentu patut diapresiasi.

Srikandi selanjutnya adalah Sutarmi dari Partai NasDem masih di dapil yang sama yaitu Dapil 4 Aceh Tengah dan Bener Meriah. Wanita kelahiran Bener meriah,  7 Mei 1965 ini merupakan seorang pensiunan ASN. Sutarmi juga tercatat pernah menjadi pengurus pramuka kwarcab Bener Meriah periode 2016-2023.

Jika Diana masih sangat muda, Sutarmi telah berusia 59 pada tahun ini, tentu seyogianya ia telah lebih dikenal kiprahnya di masyarakat.

Dari 6 kursi yang tersedia, 2 orang  adalah perempuan maka untuk dapil ini telah mencukupi kuota keterwakilan 30 %.

Srikandi Berikutnya ada Syarifah Nurul Carissa dari Partai Nanggroe Aceh (PNA) terpilih untuk dapil 5 DPR Aceh meliputi Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.

Perempuan kelahiran Desa Paya Penteut, Kecamatan Muara Dua,  Kota Lhokseumawe ini diketahui baru pertama kali terjun kedunia politik. Meski baru kali ini mencalonkan diri Syarifah mampu meraih suara badan terbanyak dipartainya dengan total 9.380 suara.

Ada 12 kursi yang tersedia untuk dapil ini namun hanya syarifah saja perempuan yang berhasil lolos meski minim pengalaman di jalur politik.

Incumbent Perempuan Kembali Terpilih

Srikandi selanjutnya ada Hj. Aisyah Ismail, S. Ag., dari Partai Aceh (PA) di dapil 6 DPRA meliputi Kabupaten Aceh Timur. Perempuan yang biasa disapa dengan panggilan Kak Iin ini, memperoleh suara terbanyak kedua, dengan perolehan suara badan 16.441 dari jumlah suara keseluruhan 90.111 suara partai Aceh. Oleh karena partai Aceh masih menempati posisi teratas dan dengan metode sainte lague, Iin bakal mewakili partainya.

Perempuan kelahiran idi rayeuk, Aceh timur ini pernah diangkat menjadi anggota DPR Acen,  pergantian Antar waktu (PAW) mengantikan Ridwan Abu Bakar dari fraksi Partai Aceh, sisa masa jabatan periode 2014-2019.

Srikandi selanjutnya adalah Martini, S.Pd., M.H., ia merupakan incumbent. Jika sebelumnya Martini mewakili partai Aceh, pada pemilu ini ia bergabung di partai Nasdem.

Perempuan kelahiran 14 Februari 1985 ini pernah menempuh pendidikan S1 dan S2 di IAIN Langsa. Ia juga pernah menjabat sebagai wakil sekretaris di organisasi putroe aceh periode 2018-2023. Martini sebelumnya anggota DPR Aceh komisi 4 periode 2019-2024.

Dapil  6 meliputi Kabupaten Aceh Timur dan dari 6 kursi tersedia,  ada 2 perempuan terpilih maka kuota 30 % perwakilan perempuan mampu terpenuhi.

Srikandi terakhir yang dirangkum Jeumpa Media adalah Nora Idah Nita, S.E., dari Partai Demokrat di Dapil 7 DPRA meliputi Kota Langsa dan Aceh Tamiang.

Perempuan kelahiran 7 Februari 1975 ini adalah politikus Partai Demokrat. Sebelumnya ia juga pernah menjabat sebagai Anggota DPR Aceh mulai dari periode 2009-2014 dan juga 2014-2019.

Ibu empat anak ini berhasil meraup 19.219 suara dan melenggang mulus ke kursi DPRA. Ia pernah menjadi Wakil Ketua DPRK Aceh Tamiang 2014-2019 lalu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh Tamiang 2017-2022. Sekarang Nora juga menjabat sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Aceh Tamiang periode 2022-2027.

Pengaruh Nora sebagai politisi Perempuan yang sanggup bertahan dan melaju di kontestasi Pemilu dan juga dipercaya menjadi pimpinan memang patut mendapat apresiasi. Aceh Tamiang juga terkenal dengan daerah yang calon legislatif perempuannya dapat melebihi kuota keterwakilan 30 % perempuan.

Namun untuk dapil 7 , hanya Nora saja yang berhasil lolos yang tak lain juga incumbent.

Dari tujuh Srikandi yang terpilih jadi Anggota DPR Aceh periode 2024-2029 tersebut, dua orang berasal dari Partai NasDem.

Kemudian Partai Golkar 1 orang, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 1 orang, Partai Aceh 1 orang, Partai Demokrat 1 orang dan Partai Nanggroe Aceh (PNA) 1 orang.

Namun demikian, dari jumlah 7 orang perempuan yang terpilih jadi Anggota DPRA tersebut, tidak sampai 10 persen dari 81 Anggota DPR Aceh saat ini. Konon lagi untuk memenuhi kuota 30 % perwakilan perempuan. Akankah Pemilu mendatang jumlah ini dapat bertambah ?!. Pastinya keterwakilan perempuan adalah bagian terpenting di setiap lini pemangku kebijakan. (Fa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *