Jeumpa Media | Jakarta – Pada hari selasa harga emas naik ke level tertinggi sepanjang sejarah. Lonjakan harga ini disebabkan berbagai faktor mulai dari ekspektasi penurunan suku bunga AS, langkah-langkah stimulus Tiongkok hingga ketegangan geopolitik yang meningkatkan permintaan, dengan itu juga membawa perak ke level tertinggi dalam lebih dari 11 tahun.
Harga emas naik 0,9% menjadi USD 2.435,96 per ounce setelah mencapai rekor tertinggi di level USD 2.449,89 di awal sesi perdagangan. Sedangkan harga emas berjangka AS ditutup naik 0,9% ke level USD 2.438,50.
Data minggu lalu menunjukkan bahwa harga konsumen AS meningkat kurang dari perkiraan pada bulan April, menunjukkan bahwa inflasi kembali melanjutkan tren penurunannya, sehingga meningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga di bulan September.
Suku bunga yang lebih rendah mengurangi opportunity cost dari kepemilikan emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding), yang juga memberikan keuntungan dari ketidakpastian di pasar.
Pavilonis dari RJO memperkirakan emas akan melonjak mendekati USD 2.500 dalam jangka pendek karena ada ketakutan akan ketinggalan dalam reli emas.
“Ada banyak non-pedagang yang menghubungi tempat (broker) untuk membeli kontrak berjangka atau menerima pengiriman fisik,” ucapnya.”
Harga emas juga didukung oleh peningkatan kepemilikan di bank sentral Tiongkok.
Analis di Kitco Metals dalam sebuah catatan menulis yang menambah kenaikan emas adalah meningkatnya penghindaran risiko (risk aversion) karena Presiden Iran Ebrahim Raisi meninggal dalam kecelakaan helikopter.
Atas moment ini beberapa analis juga menyoroti lonjakan emas akibat pengumuman Tiongkok mengenai langkah-langkah “bersejarah” untuk menstabilkan sektor properti yang terkena krisis.
Tiongkok adalah konsumen utama emas dan logam industri lainnya. Selain harga emas, harga perak di pasar spot juga naik 2,2% menjadi USD 32,17 setelah mencapai level tertinggi dalam 11 tahun.
Survei Emas Mingguan Mayoritas pakar industri percaya bahwa harga emas dapat mencapai atau melampaui harga tertinggi sepanjang masa. Sementara itu, pedagang ritel menunjukkan sikap yang sedikit lebih hati-hati terhadap prospek logam mulia.
Colin Cieszynski, Kepala Strategi Pasar di SIA Wealth Management, optimis bahwa harga emas akan terus naik minggu depan. Ia mencatat bahwa dolar AS dan imbal hasil treasury tampaknya melemah, yang secara teknis bisa membuka jalan bagi harga emas untuk mencapai USD 2,500 jika berhasil menembus resistensi di USD 2,400.
James Stanley, ahli strategi pasar senior di Forex.com, juga yakin bahwa emas akan terus menguat dalam waktu dekat.
Stanley mencatat bahwa pergerakan emas bullish yang kuat minggu ini merupakan kelanjutan dari penembusan pola fall wedge/bull flag minggu sebelumnya, dengan level USD 2,400 menjadi titik acuan penting.(YM)
