Jeumpa Media | Pidie – Diduga melakukan pelecehan seksual terhadap sejumlah santriwati yang masih berusia di bawah umur, oleh oknum pimpinan pondok pesantren (Ponpes) di Kecamatan Padang Tiji, Pidie, berinisial AJ (39).
Kasus Tersebut sudah dilaporkan ke polres pidie atas dugaan perbuatan asusila Kini ditangani Polres Pidie.
Salah satu korban yang berusia 17 tahun mengaku pelecehan tersebut terjadi saat pelaku meminta memijat kepala dan badan pelaku, setelah itu pelaku menawari korban untuk dipijat juga karena merasa takut korban tidak berani membantah.
Pelaku melakukan aksinya saat guru pengajian lain sudah pulang dan mendatangi bilik (kamar) korban pada malam hari.
Bukan hanya sekali, kejadian yang sama juga terjadi setelah korban baru lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), pelaku kembali meminta untuk dipijat kepala dan badannya menggunakan minyak oles, Kemudian setelah itu pelaku balik memijat korban.
Setelah kejadian itu, korban tidak lagi mondok hanya mengaji dimalam hari saja.
Hal senada juga diceritakan korban lainnya, Ia mengaku dipanggil khusus ke kamar pelaku dengan dalih mengulang hafalan kitab yang sudah dipelajari sebelumnya. Tapi tiba-tiba pelaku yang mesum itu meraba-raba korban.
Karena kejadian yang meresahkan itu orang tua salah seorang korban, Usman (60) meminta aparat penegak hukum agar mengusut tuntas kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami anaknya tersebut.
Di tempat lain Pimpinan Pondok Pesantren MH, AJ saat dikonfirmasi wartawan membantah melakukan pelecehan seksual terhadap santriwati sebagaimana dilaporkan ke Polres Pidie.
Ia menyebutkan hanya meminta korban untuk memijat tubuhnya dan sempat mengoleskan minyak urut kepada korbanjuga.
“Saya meminta tolong untuk mengoleskan minyak ke badan karena saya stroke ringan. Saya juga tau dia lagi sakit, saya tanyakan kamu belum sembuh, kalau belum sembuh saya tawarkan untuk oleskan minyak tersebut,” ucapnya.”
Dia mengaku santriwati tersebut sudah dianggap seperti anak sendiri dan sering memberikan uang kepada korban dan tidak ada maksud apa-apa terhadap muridnya tersebut.
AJ juga membenarkan lokasi dia meminta santri mengulang kitab bertempat di kamarnya sendiri, dengan tujuan agar para santri fokus mendalaminya.
Pimpinan Pondok Pesantren di Padang Tiji itu berkilah tidak melakukan serangan seksual terhadap korban satunya lagi, namun hanya sebatas mengoles minyak di perut santriwati tersebut.
“Kalau dia kan halangannya tidak lancar, jadi saya tanya sudah sembuh belum dia jawab belum maka saya oleskan minyak di perut dia,” pungkasnya.”(YM)
