Isu Narkoba Alibi Trump Culik Presiden Venezuela untuk Kuasai Minyak

Jeumpa Media  | Amerika Serikat- Dibawah komando Donald Trump, Amerika Serikat (AS) telah melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela yaitu Nicolas Maduro dalam operasi militer di Caracas pada Sabtu (3/1/2026).

Dilansir dari Reuters, pada Minggu (4/1/2026), serangan AS dan penangkapan Nicolas Maduro adalah puncak dari tekanan selama berbulan-bulan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Venezuela yang menuai kecaman dari beberapa pemimpin internasional.

Penangkapan Maduro diawali dengan serangan oleh pasukan AS. Tanpa alasan jelas, AS menyebut Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah karena memanipulasi hasil pemilu.

Namun, Maduro secara konsisten dan tegas membantah tuduhan tersebut. Ia justru menuding bahwa AS berupaya menguasai cadangan minyak Venezuela serta kekayaan negaranya.

Setelah itu, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap dan di bawa ke AS.

Trump juga terus mendesak Maduro untuk menyerahkan kekuasaan yang di pimpinannya sebagai Presiden Venezuela bahkan Trump menuduhnya mendukung kartel narkoba.

Trump menuduh Maduro dan kartel narkoba harus bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS yang terkait dengan penggunaan narkoba ilegal.

Diketahui sejak September 2025, pasukan AS telah membunuh lebih dari 100 orang dalam setidaknya 30 serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkoba dari Venezuela di Karibia dan Pasifik.

Bukan hanya itu, dengan alasan penyelundupan narkoba, AS juga telah menyita kapal-kapal tanker minyak Venezuela.

Para ahli hukum bahkan mengatakan jika aksi yang dilakukan AS itu kemungkinan melanggar hukum AS dan internasional.

Usai penangkapan Maduro, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump malah menyatakan bahwa AS akan mengambil alih kendali sementara atas Venezuela setelah pasukan Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela.

Pernyataan itu dilayangkan Trump saat konferensi pers yang digelar di resor Mar-a-Lago miliknya di Florida pada Sabtu (3/1/2025).

Trump menyatakan bahwa AS akan menjalankan pemerintahan Venezuela hingga memungkinkan terwujudnya proses transisi yang dinilai aman dan terukur.

“Kami akan menjalankan negara ini sampai tiba saatnya dilakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana. Kami tidak bisa mengambil risiko jika Venezuela diambil alih oleh pihak lain yang tidak memikirkan kepentingan rakyat Venezuela,” ujar Trump, dikutip dari Reuters, Minggu (4/1/2026).

Trump juga menyebut sejumlah perusahaan minyak besar Amerika Serikat akan masuk ke Venezuela untuk memperbaiki infrastruktur minyak yang menurutnya telah mengalami kerusakan parah.

Negara Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak berlimpah dan terbesar di dunia, namun para ahli menilai proses pemulihan infrastruktur tersebut dapat memakan waktu bertahun-tahun.

Seperti yang diberitakan Reuters, banyak pihak mengkritik pernyataan Trump yang dinilai terlalu menitikberatkan pada sektor minyak.

Para pengkritik mempertanyakan upaya pemerintahan AS dalam membingkai penangkapan Maduro, serta serangkaian serangan rudal mematikan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat perdagangan narkoba, sebagai operasi penegakan hukum untuk memutus jalur penyelundupan narkoba ke Amerika Serikat.

Sejumlah ahli bahkan menilai, alasan narkotika adalah alibi Trump untuk melakukan penangkapan semena-mena terhadap pemimpin Venezuela tersebut untuk mengambil alih kekayaan minyak mereka.

Namun, hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Venezuela terkait hal tersebut.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *