Jeumpa Media | Paris – Gelombang unjuk rasa menentang lonjakan biaya hidup, krisis kesejahteraan, dan penurunan kualitas layanan publik di Prancis berubah menjadi kerusuhan paling membara dalam beberapa dekade terakhir, Minggu (18/10/2026).
Aksi massa yang awalnya berlangsung damai dengan keterlibatan ratusan ribu warga di berbagai kota mendadak ricuh ketika kelompok aksi mulai melancarkan tindakan anarkis membakar fasilitas umum, menerobos balai kota, hingga menjarah butik-butik mewah dan minimarket.
Aksi yang dimulai dari protes siswa sekolah menengah atas krisis tenaga pengajar di pinggiran utara Paris ini dengan cepat meluas menjadi gerakan resistensi nasional.
Kemarahan publik dipicu oleh tingginya harga bahan bakar, biaya sewa yang melonjak, serta ketimpangan ekonomi yang kian melebar di bawah pemerintahan Presiden Emmanuel Macron.
Di sejumlah kota seperti Limoges, Marseille, dan Lyon, massa membakar kantor pemerintahan, mencoretkan grafiti anarkis, serta merusak pertokoan hingga ruas jalan di Paris dilaporkan hancur lebur.
Situasi kian memanas karena gelombang protes ini berhembus hanya enam bulan menjelang Pemilu 2027.
Di tengah asap kebakaran dan bentrokan terbuka dengan aparat kepolisian, para pengunjuk rasa bahkan meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah dan membandingkan aksi mereka dengan Revolusi Prancis 1789, menandaskan makin dalamnya krisis kepercayaan rakyat terhadap jaminan kesejahteraan negara.(*)
