Jeumpa Media | Jakarta – Pemerintah telah merekrut 2.095 partisipan untuk mengikuti uji klinik fase 3 kandidat vaksin tuberculosis ( Vaksin TBC) M72 yang didanai Bill Gates.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan RI, Aji Muhawarman, mengatakan 2.095 partisipan berasal dari kelompok usia remaja dan dewasa. Uji klinik ini merupakan bagian dari studi global yang juga dilaksanakan di Afrika Selatan, Kenya, Zambia, dan Malawi.
Total partisipan uji klinik fase 3 ini berjumlah 20.081 orang dari lima negara. Afrika Selatan menjadi kontributor terbesar dengan 13.071 partisipan, diikuti Kenya (3.579), Indonesia (2.095), Zambia (889), dan Malawi (447).
Vaksin ini digadang-gadang menjadi solusi ancaman penyakit yang setiap tahun menewaskan 1,5 Juta manusia di dunia
Di Indonesia, uji coba dilakukan antara lain di RSUP Persahabatan Jakarta Timur dan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Targetnya, vaksin ini bisa menyelesaikan uji klinis pada 2028.
“Uji klinis merupakan tahapan krusial dalam proses pengembangan vaksin untuk memastikan keamanan, efektivitas, serta mengidentifikasi potensi efek samping sebelum digunakan oleh masyarakat,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman di Jakarta.
Aji menambahkan, seluruh uji klinis vaksin M72 di Indonesia diawasi banyak lembaga. Mulai dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), hingga Kementerian Kesehatan. Ahli vaksin TBC nasional dan global juga dilibatkan dalam proses tersebut.
Sebenarnya seberapa penting uji coba ini?
“Secara epidemiologi dan sains, urgensi vaksin TB ini sangat jelas. Setiap 20 detik ada satu kematian akibat TB di dunia. Indonesia bisa menjadi negara dengan penderita TB terbanyak jika tidak segera dikendalikan,” ujar epidemiolog Dicky Budiman kemarin.
Mengenai Bill Gate Dicky menegaskan bahwa keterlibatan pendiri Microsoft itu dalam pembiayaan riset vaksin TB tidak seharusnya dikaitkan dengan teori konspirasi yang tidak berdasar.
“Bill Gates baru masuk mendukung saat fase 3. Perlu diketahui, riset vaksin seperti ini biayanya bisa mencapai Rp25 triliun. Tanpa dukungan sektor filantropi dan swasta, riset ini sulit berjalan,” katanya.
