9 Ramadhan 1364 H, Peringatan Momen dan Angka Sakral  Proklamasi RI  

Jeumpa Media | JAKARTA – Meski dalam keadaan melaksanakan ibadah shaum ramadhan, tidak menyurutkan kaum muslim untuk menegakkan keadilan menuju kesejahteraan seperti kemerdekaan. Ramadhan malah menjadi momen sakral yang ditunggu dengan harapan Ridha Ilahi. Sebutlah pembebasan Makkah (Fath Makkah) itu terjadi di 8 Hijiriah dan bagi bangsa  Indonesia sendiri, Soekarno juga mengambil momen di Ramadhan 1364 H untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesa.

Maka pada hari ini , Sejarah Indonesia mencatat 80 tahun yang lalu bertepatan 17 Agustus 1945 M Jumat, pukul 10.00 WIB di bulan Ramadhan hari ke 9, Indonesia menyatakan kemerdekaannya, Minggu (09/3/2025).

Luar biasanya, dari menuliskan naskah teks proklamasi oleh tulisan tangan Soekarno, lalu diperbaiki sesuai usulan sejumlah tokoh termasuk Ahmad Subardjo lalu diketik oleh Sayuti Melik dan ditanda tangani Soekarno- Hatta, menariknya semua dilakukan saat sahur.

Sebagaimana dilansir dari republika, terlaksananya proklamasi memang sangat terburu-buru. Bahkan kondisi Bung Karno dan Bung Hatta sangat Lelah dikarenakan mereka baru saja tiba di Jakarta pukul 23.00 WIB. Setelah sebelumnya kedua tokoh tersebut diculik sejumlah pemuda ke Rengasdengklok.

Para pemuda mendapat info dari Sutan Sjahrir bahwa Jepang telah menyerah terhadap sekutu pada perang dunia II sehingga menurut mereka agar tak kembali di jajah oleh Belanda, maka saat yang tepat memproklamirkan mekerdekaan sebelum 17 agustus 1945.

Alasan Soekarno Memilih Jumat, 17 Agustus 1945 “Angka Tersebut Angka Tuhan”.

Buku autobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang disusun Cindy Adams, menjelaskan bahwa alasan dibalik Soekarno memilih tanggal 17 Agustus yaitu karena tanggal tersebut menurutnya adalah angka keramat, angka Tuhan.

Dalam buku tersebut, Sukarno menyampaikan,

“Yang paling penting di dalam suatu peperangan dan revolusi adalah waktu yang tepat. Di Saigon, aku sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17,” ucap Bung Karno.

“Mengapa tanggal 17, tidak lebih baik sekarang saja atau tanggal 16?” tanya Sukarni, salah seorang pemuda revolusioner.

“Aku percaya pada mistik,” jawab Bung Karno, “aku tidak dapat menerangkan yang masuk akal, mengapa tanggal 17 memberikan harapan kepadaku.”

Putra Sang Fajar lalu mengungkapkan bagaimana ilham “17 Agustus” itu sampai kepadanya. Menurut dia, saat memikirkan hal itu di Saigon dirinya seperti merasakan dalam relung hatinya. Tanggal 17 Agustus 1945 itu adalah momen yang baik.

“Tujuh belas adalah angka yang suci. Tujuh belas adalah angka keramat. Pertama-tama, kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita berpuasa sampai Lebaran, benar tidak?”

“Ya.”

“Ini berarti saat yang paling suci, bukan?”

“Ya.”

“Hari Jumat ini Jumat Legi. Jumat yang manis. Jumat suci. Dan hari Jumat tanggal 17. Alquran diturunkan tanggal 17. Orang Islam melakukan sembahyang 17 rakaat dalam sehari. Mengapa Nabi Muhammad memerintahkan 17 rakaat, bukan 10 atau 20? Karena kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia,” tegas Bung Karno.

Bung Karno Menyatakan Proklamasi Butuh Orang Sumatera

Meski dua hari tidak tidur pasca penculikan, serta membuat kondisi Bung Karno terkena demam namun setelah teks proklamasi rampung di buat di kediaman Laksamana Maeda pada 17 Agustus 1945 pukul 04.00 pagi. Soekarno kembali ke kediamannya Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta untuk santap sahur.

Kemudian saat subuh  meski hari masih gelap, kediaman Bung Karno telah dipenuhi sekitar 500 orang. Masyarakat berbondong-bondong untuk menjadi saksi kemerdekaan Indonesia. Para pemuda memang sengaja memilih tidak tidur semalaman demi menyebar selebaran keliling kota terkait kemerdekaan yang akan di proklamirkan.

Berbagai lapisan Masyarakat hadir, seperti petani, pedagang kelontong, nelayan, pegawai negeri, tua, dan muda dengan membawa bambu runcing, batu, sekop, tongkat, parang, golok untuk menunjukkan tekad berani mati demi kemerdekaan.

Meskipun telah disepakati proklamasi dibacakan pukul 10.00 pagi, rupanya rakyat tidak sabar.

“Sekarang, Bung. Sekarang! Nyatakanlah sekarang! Nyatakanlah sekarang!” teriak rakyat.

Rakyat khawatir Jepang akan menghalangi. Namun Bung Karno belum mau mengucapkan karena menunggu kedatangan Bung Hatta.

‘”atta tidak ada. Saya tidak mau mengucapkan proklamasi kalau Hatta tidak ada.”

“Karena aku orang Jawa dan dia orang Sumatra. Demi persatuan aku memerlukan seorang dari Sumatra.”ujarnya.

Hampir waktu bersamaan, terdengar orang-orang berteriak, ”Bung Hatta datang! Bung Hatta datang!”

Tokoh kelahiran tanah Minangkabau ini sejak dahulu memang masyhur sangat disiplin waktu. Lima menit sebelum waktu yang ditetapkan, Bung Hatta datang. Setelah masuk ke kamar Bung Karno, keduanya dengan pakaian putih-putih menuju ruang depan.

Mikrofon dengan pengeras suaranya telah disiapkan, lalu dibacakanlah teks Proklamasi RI tepat pukul 10 pagi. peristiwa bersejarah ini berlangsung dengan sangat sederhana dan hanya satu jam saja.

Kemerdekaan Rahmat Tuhan

Demikian Sejarah terbesar Indonesia yang berlangsung di bulan Ramadhan. Keistimewaan angka 17 juga dianggap Bung Karno sangat penting karena tanpa Rahmat Tuhan, tentu Indonesia masih terjajah.

Maka jika ditinjau dari Alqur’an surat ke 17 ayat 8 yaitu surat Al Isra’

عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يَّرْحَمَكُمْۚ وَاِنْ عُدْتُّمْ عُدْنَاۘ وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكٰفِرِيْنَ حَصِيْرًا ۝٨

“Mudah-mudahan Tuhan kamu melimpahkan rahmat kepada kamu; tetapi jika kamu kembali (melakukan kejahatan), niscaya Kami kembali (mengazabmu). Dan Kami jadikan neraka Jahanam penjara bagi orang kafir” .

Keterkaitan surat tersebut dengan momentum sacral proklamasi kemerdekaan Indonesia sangat kuat. Maka melalui peringatan 9 ramadhan ini bahwa di hari ini Allah telah memberi Rahmat yang luar biasa kepada seluruh bangsa Indonesia yaitu Merdeka, semoga kita semua para mukmin menjadi semakin bersyukur.

Namun, ditengah banyaknya kasus yang terjadi di bumi pertiwi, korupsi merajalela, pengangguran dan angka kemiskinan ektrem yang luar biasa. Dimana si kaya menjadi teramat kaya, sementara si miskin terlalu miskin. Hukum yang berat sebelah ke rakyat kecil namun menjadi ringan di kalangan pejabat kelas kakap. Mungkinkah semua ini azab? Sebagaimana surat Al Isra’ ?!.  (Maidelina)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *