Jeumpa Media | Langsa – Keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Langsa kini tengah berduka. Seorang alumni yang juga dikenal Master of Training (MOT) disetiap pengkaderan HMI Langsa bidang penanaman nilai-nilai keIslaman kini telah tutup usia. Dialah Dr Asnawi Abbas, Spd Mpd.
Tak ada kabar sakit, bahkan beberapa kerabat masih berkomunikasi dengannya sehari sebelum mendengar kabar duka. Malamnya, grup WA pun dikejutkan dengan berita bahwa Asnawi telah berpulang, sekira pukul 23.00 WIB pada Minggu 26 Oktober 2025 di RSU Cut Meutia Langsa.
Maria salah satu alumni HMI yang merupakan kerabat almarhum menyebut, ia sangat kehilangan pribadi yang ikhlas seperti Asnawi,
” Innalillahiwainnailaihiraji’un, kita kehilangan pribadi yg ikhlas. Wafatnya pun masih memberi pesan untuk kita. Wajahnya penuh senyuman. Benar-benar pribadi penuh kesiapan menghadapNya” ucapnya pada grup WA Forhati Langsa, Senin (27/10/2025).
Rasa kehilangan dan kesan yang cukup mendalam juga tergambarkan pada banyak alumni dan kader HMI Langsa. Tak terkecuali Mantan Ketum HMI Langsa M Khairurradi yang akrab disapa Jendral Kancil (JK),
” Ada kenangan kita berdua saat didunia kampus yang sulit ku lupakan dan itu juga merupakan bahagian dari awal transformasi karir dunia perpolitikan diriku.
Semoga Husnul Khatimah Saudaraku” tulis JK yang juga Ketua Umum MD-KAHMI Kota Langsa masa bakti 2017-2022 di laman facebook pribadinya, (27/10/2025).
Seperti apa sosok suami dari Juwairiah ini dan bagaimana perjuangan mulianya?
Asnawi Abbas lahir 10 Mei 1968. Ia tutup usia di 57 tahun. Ayah dari 4 orang anak ini sehari-hari dikenal sebagai dosen Sejarah di FKIP UNSAM Langsa. Kini dengan karir di pekerjaan yang terus meningkat, ia pun menduduki jabatan Ketua LPPM-PM Unsam.
Meski pernah menjabat sebagai Ketum HMI Langsa tahun 1995-1996, Asnawi berperangai tenang dan santun. Berbeda dengan mantan Ketum HMI lain yang cukup dikenal dikalangan aktivis sebutlah Ray Iskandar dan JK dengan semangat berapi-api ketika memberi pendapat.
Saat ia memimpin pun, organisasi tersebut banyak mengadakan kegiatan diskusi terutama study intensif quran. Pergolakan HMI terlihat tenang dan penuh menguras pikiran.
Namun pada periode setelahnya, organisasi ini dikenal dengan gerakan demonstrasi demi beberapa misi memperjuangkan keadilan. Maka sudah tentu, sosok yang paling keras mengkritik akan menjadi fenomenal dan lebih dikenal.
Meski aktivis muda tak terlalu melihat sosok Asnawi yang hebat. Saksi sejarah takkan punah, walau tertutupi karena tak bergengsi untuk diucap berulang kali atas apa yang pernah Asnawi titipkan yaitu tak lain adalah ilmu yang bermanfaat.
Kiprah Asnawi tak terbantah dan belum tersaingi dalam memperjuangkan kekuatan nilai-nilai Islam di kalangan kader HMI.
Sudah menjadi doktrin bahwa setiap aktivis HMI harus melalui basic training yaitu LK I. Disinilah Asnawi bertahun-tahun menyusun konsep dan mendedikasikan segenap jiwa raganya, menanamkan bahwa ada kemampuan dasar dalam melakukan pergerakan yang harusnya mereka miliki.
Hal itu tak lain Iman yang Aqdun bil Qalbi , Wa Iqrarun bil Lisani, wa amalun bil arkani yaitu pandangan dan sikap hidup, sementara Islam satu Diin atau penataan hidup yang disunnahkan Rasulullah Muhammad SAW dan Ihsan satu tujuan yaitu berbuat tepat.
Konsep bagaimana sebagai mahasiswa harus memiliki kemauan untuk memiliki keimanan yang kuat dibangun Asnawi bersama partner setia dan dekatnya terdahulu yaitu Darmin SPd.
Darmin sebagai alumni HMI juga telah meninggal dunia karena penyakit sirosis di tahun 2014.
Namun meski kini jasad kedua mereka yang berperan hebat ini telah tiada, sedikitpun tidak menghilangkan esensi menjadi orang berIslam yang benar.

Dulu, mereka rela berhari-hari tidak tidur demi seminggu penuh mengelola training siang dan malam.
Semua demi menyebarkan syi’ar Islam yang bermanfaat. Wa Anzir asyiratakal aqrabin adalah kutipan dari Al-Qur’an pada surah Asy-Syu’ara ayat 214. Penggalan ayat yang menjadi kewajiban untuk berdakwah kepada lingkungan terdekat menjadi alasan dibalik semua peran yang bertahun-tahun dijalankan Asnawi.
Sebuah basic traning dalam seminggu dirancang selama dua hari dua malam, hanya untuk menuntaskan pemahaman esensi berIslam yang benar. Bagaimana mukmin harus menjadikan Al-Qur’an sebuah Hudan lil Muttaqin yaitu petunjuk hidup agar tidak bertuhan kan yang lainnya selain Allah jika ingin hasanah fiddunya wal akhirah.
Lalu dimana mengaji selayaknya memahami makna Al-Quran, shalat juga sebagai sebuah doa, sebaiknya diketahui makna dalam setiap bacaannya juga pengetahuan akan sejarah peradaban Islam sangat penting. Semua dasar untuk menata masa depan agar menjadi pendukung Islam yang benar hingga akhir zaman. Tutur Asnawi kala itu.
Dulu semasa hidupnya, Asnawi sangat mendukung semua mahasiswanya yang mau masuk HMI.
Perhatian dan loyalitas tinggi dalam senyap tergambar di setiap dukungan nya. Tidak hanya ilmu, juga nilai kuliah serta turut membantu puluhan kader HMI agar bisa mendapat beasiswa juga bagian dari dedikasi tanpa menuntut dipuji.
Asnawi memang tidak berharap sanjungan, juga tidak memaksa didengar pendapat politiknya. Ia hanya terlalu peduli akan dakwah untuk bekal akhiratnya. Sangat terbuka jika ada kajian dan pertemuan mingguan mendalami Al-Qur’an dan selalu menyempatkan waktu untuk itu semua.
Kini, perkembangan teknologi dan pergantian kepemimpinan di HMI, telah mengurangi peran Asnawi dalam menanamkan NDP HMI. Tak ada lagi penanaman berhari-hari. Para peserta training tak ada yang pusing tujuh keliling seperti dulu.
Tepatnya pada tahun-tahun 2007 – 2010, peserta bahkan pernah ada yang menangis tersedu-sedu karena menyadari bahwa ia luput menganggap sepenting itu memahami makna Al-Quran. Kini semua fenomena itu mungkin akan kita rindukan.
Selanjutnya Asnawi dianggap alumni yang sangat senior, barangkali alasan itu yang membuat ia hanya sesekali mengisi training saja sebagai pemateri singkat. Tidak seperti dulu terlibat aktif berhari-hari menyusun dan menjadi master .
Meski sebenarnya ia ikhlas dan masih siap kapan saja, tak peduli bahwa ia punya keluarga dan telah tua. Karena setiap instruktur di HMI tidak terbatas usia. Namun perkembangan zaman dan keinginan simple anak muda, mengikis perlahan peran itu.
Apakah ada regenerasi yang dapat melanjutkan perjuangan mulianya? Tidak. Mungkin belum terlihat.
Semoga husnul khotimah Dr Asnawi Abbas. Tak ada yang sia-sia dalam setiap niat baik kita. Semoga perjuangan bertahun-tahun itu membuahkan hasil dan dilanjutkan bagi setiap insan yang bercita-cita ihsan.*
Penulis Sherly Maidelina – instruktur pendamping setia kanda Asnawi Abbas dalam pemaparan NDP HMI 2004-2012.
