Langka BBM, Sembako, Gas Elpiji. Berikut Kepanikan Warga Hingga Muncul Kejahatan Pasca Banjir

Jeumpa Media | Aceh – Pasca bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh dan Sumatera, bencana susulan yang menjadi ketakutan seluruh warga pun menyerta. Terlihat antrian BBM di hampir semua kota di Aceh. Selain itu, lambatnya bantuan  pangan pun membuat di beberapa tempat sejumlah warga nekad menjarah toko serta menyerbu bantuan.

Berikut sejumlah kepanikan pembeli atau Panik Buyer pasca bencana banjir di Aceh yang dirangkum Jeumpa Media :

  1. Antrian Panjang BBM. Di Langsa, warga yang menggeram nekad menghancurkan SPBU

Terputusnya akses jalur darat diakibatkan badan jalan yang retak serta putusnya jembatan penghubung membuat warga mendadak panik tak mendapatkan BBM. Alhasil dari Banda Aceh hingga Aceh Tamiang, warga berbondong-bondong mengantri BBM di SPBU. Adapun warga yang mengantri bukan hanya karena telah kehabisan, namun juga antisipasi kehabisan.

Ketakutan ini memunculkan beberapa kecurangan hingga kejahatan. Warga berbondong-bondong membeli bahan bakar, ada yang membeli untuk dijual kembali dengan harga selangit dan ada juga yang bahkan nekad membuat kerusuhan karena telah mengantri berjam-jam namun SPBU tutup menjelang malam.

Di Kota Langsa, warga mengaku mengantri selama 4 jam hanya untuk mendapatkan sebotol atau seliter BBM. Mirisnya, meski telah berjam-jam SPBU harus tutup karena harus istirahat malam. Meski pemilik SPBU menjelaskan bahwa mesin harus istirahat namun warga yang telah lama mengantri tidak terima dan mendesak tetap dibuka. Alhasil warga yang menggeram nekad merusak areal SPBU di Kota Langsa tersebut.

  1. Harga pangan melonjak, pemerintah lambat menangani warga kelaparan hingga berujung penjarahan.

Dalam kepanikan pasca banjir, warga yang khawatir kehabisan stok pangan diduga menyetok persediaan. Di Kota Banda Aceh bahkan stok telur benar-benar kehabisan meski dampak banjir tidak separah wilayah lain di Aceh.

Ketakutan tersebut juga membuat warga nekad menjarah beberapa toko. Seperti kejadian di Kota Langsa, dikabarkan toko Alfamart dijarah pada saat musibah banjir tanggal 26 november. Hal ini juga membuat pemilik lainnya ketakutan membuka warung karena khawatir dijarah warga yang terdesak karena kelaparan. Penjarahan serupa juga terjadi di Bener Meriah, warga nekad menjarah Indomaret.

Tak hanya itu, beberapa warung yang telah menjual bahan makanan juga menarif harga setinggi langit. Sontak hal ini pun semakin membuat warga menjerit.

Tak hanya menjarah, lambatnya bantuan sembako dari pemerintah juga membuat warga nekad menyerbu setiap pendatang yang terlihat membawa bantuan pangan. Seperti kejadian yang dikabarkan terjadi di Aceh Tamiang.

  1. Gas Elpiji Langka dan Habis

Setelah BBM dan pangan. Kelangkaan gas pun turut menyerta. Meski pemerintah mengatakan sedang mengupayakan via jalur laut, namun kenyataannya untuk Banda Aceh stok gas elpiji terutama yang 3kg telah kehabisan.

  1. PAM Mati, Depot Tutup Hingga beralih ke Air Minum Kemasan Karena Krisis Air Bersih

Di beberapa tempat, karena mati lampu warga tak bisa membeli air dari depot terdekat. Menyebabkan warga harus membeli air kemasan di warung. Hal ini membuat lonjakan harga untuk air minum juga terjadi.

Diperparah di beberapa tempat yang mati PDAM karena kerusakan instalasi seperti di Kota Langsa.

Sementara untuk wilayah lainnya, juga ada pemandangan unik dan menyedihkan terlihat beberapa warga harus mencuci baju di air parit karena tak lagi memiliki pakaian dan krisis air bersih.

  1. Lilin

Uniknya akibat Listrik yang tidak stabil, dan beberapa wilayah masih putus aliran maka lilin pun menjadi alternatif penerangan. Hal ini membuat stok lilin juga menjadi langka. Di Banda Aceh misalnya, beberapa warung bahkan menulis didepan tokonya bahwa stok persediaan lilin habis.

  1. Tarik Tunai / Persediaan uang cash

Bencana banjir yang mengakibatkan Listrik mati membuat sebagian warga juga menjadi panik karena tidak memiliki uang tunai atau cash. Alhasil warga harus mencari alternatif lain, sehingga pedagang nakal pun mengambil kesempatan dengan menaikkan jasa biaya Tarik tunai di BRI Link atau sejenisnya.

  1. Akses Internet Terputus membuat warga padati warkop

Kebutuhan internet yang diera digital bak kebutuhan pangan ini juga membuat warga sangat resah. Bayangkan selama 5 hari tak bisa menghubungi kerabat dekatnya diluar Lokasi bencana. Akhirnya warga nekad memadati warkop yang menyediakan jaringan internet.

Dibeberapa wilayah yang bahkan genset pun tak tersedia, seperti Kota Langsa hanya jaringan komunikasi Starlink yang dapat selama 6 hari paska banjir.

Hal ini membuat warkop tersebut teramat padat dan pemilik memasang tarif per jam yang tentu membuat pengeluaran warga semakin membengkak.

Ketujuh kelangkaan tersebut membuat warga pun mengeluh karena biaya hidup sehari-hari ditengah musibah ini begitu mahal dan semakin sulit. Berharap dari Pemerintah pun membuat warga semakin kecewa karena masing-masing karakter kepala daerah berbeda-beda cara menanggapinya.

Di Kota Banda Aceh, uniknya terlalu asyik turun ke jalan ditengah pasokan Listrik dan internet serta pangan, BBM, Gas Elpiji  yang belum stabil. Walikota Illiza malah juga ikut turun ke Pidie Jaya untuk menemani rombongan pemerintah pusat.

Sementara walikota Langsa, banjir hujatan dan kritikan karena 5 hari tak berada bersama rakyatnya ditengah musibah sedahsyat ini menyerang wilayah yang ia pimpin. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *