Jeumpa Media | Jakarta- Kursi kekuasaan tertinggi Iran kini resmi berpindah tangan—dan jatuh ke dalam lingkaran keluarga yang sama. Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran hanya sepekan setelah ayahnya tewas dalam serangan Amerika Serikat–Israel.
Keputusan tersebut diumumkan oleh Assembly of Experts pada Senin (9/3) dini hari. Penunjukan Mojtaba memicu sorotan tajam karena dianggap memperkuat kesan dinasti kekuasaan di negara yang selama ini mengklaim kepemimpinan berbasis ulama.
Beberapa nama sempat muncul sebagai kandidat, termasuk Alireza Arafi, tokoh garis keras Mohsen Araki, serta Hassan Khomeini—cucu pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini. Namun pada akhirnya, Majelis Ahli memilih Mojtaba, sosok ulama tingkat menengah yang selama ini dikenal tertutup tetapi disebut memiliki pengaruh besar di balik layar.
Nama Mojtaba sendiri bukan figur baru dalam kontroversi. Ia telah disanksi oleh United States Department of the Treasury pada 2019 di era Donald Trump karena dianggap menjadi perpanjangan tangan ayahnya dalam mengendalikan aparat keamanan Iran.
Ia juga kerap dituduh berperan dalam penindasan demonstrasi besar setelah pemilihan ulang presiden garis keras Mahmoud Ahmadinejad pada 2009. Di sisi lain, penyelidikan yang dikutip Bloomberg menyebut ia diduga mengumpulkan kekayaan lebih dari US$100 juta melalui jaringan investasi properti di Eropa dan Timur Tengah.
Kini, dengan dukungan kuat kalangan konservatif dan kedekatan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps, Mojtaba Khamenei resmi memegang kendali Iran—di tengah peringatan keras dari Israel bahwa siapa pun yang memimpin Teheran tetap akan menjadi target.(*)
