Jeumpa Media | Taheran- Sebuah laporan mengejutkan dari Tasnim News Agency di Tehran tiba-tiba mengguncang panggung media internasional. Kantor berita yang dekat dengan lingkaran kekuasaan Iran itu melontarkan klaim yang hingga kini belum terverifikasi: Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, disebut-sebut telah tewas atau setidaknya mengalami luka parah dalam sebuah serangan balasan terbaru di tengah perang panas yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Spekulasi semakin liar setelah Netanyahu mendadak “lenyap” dari ruang publik selama hampir empat hari—sebuah anomali bagi pemimpin yang biasanya rajin muncul lewat pesan video harian. Tiba-tiba, semua komunikasi yang dikaitkan dengan dirinya hanya muncul dalam bentuk pernyataan tertulis tanpa satu pun rekaman video atau foto terbaru yang bisa memastikan bahwa ia benar-benar baik-baik saja.
Keheningan yang Memancing Kecurigaan
Sumber-sumber yang dikutip media Iran menyebutkan bahwa sejak menghilang, setiap pesan yang diklaim berasal dari Netanyahu hanya beredar dalam format teks. Tidak ada visual, tidak ada penampilan publik—situasi yang langsung memicu tanda tanya besar.
Di saat yang sama, area sekitar kediaman resmi perdana menteri dilaporkan dijaga dengan pengamanan luar biasa ketat. Namun anehnya, otoritas Israel tidak memberikan penjelasan apa pun mengenai alasan peningkatan keamanan tersebut.
Lebih jauh lagi, laporan Tasnim News Agency bahkan melontarkan tudingan yang lebih sensasional: Menteri Keamanan Nasional Israel yang dikenal garis keras, Itamar Ben-Gvir, serta saudara Netanyahu, Iddo Netanyahu, juga disebut mungkin menjadi korban dalam insiden yang sama. Klaim ini, tentu saja, belum mendapat konfirmasi dari sumber independen mana pun.
Pembatalan Mendadak dari Washington
Misteri semakin dalam ketika dua tokoh penting Amerika—Steve Witkoff dan Jared Kushner—secara mendadak membatalkan kunjungan yang sebelumnya dijadwalkan ke Israel. Kunjungan tersebut seharusnya menjadi bagian dari pembicaraan tingkat tinggi mengenai eskalasi perang dengan Iran.
Ironisnya, pembatalan itu dilaporkan media Israel tanpa penjelasan apa pun dari Washington maupun Tel Aviv. Sejumlah sumber bahkan mulai berspekulasi bahwa keputusan tersebut mungkin terkait dengan ketegangan di balik layar antara pemerintah AS dan Israel mengenai seberapa jauh operasi militer terhadap instalasi minyak Iran harus diperluas.
Diamnya Tel Aviv, Liar nya Spekulasi
Yang paling memancing kecurigaan adalah sikap diam total dari pemerintah Israel. Hingga kini tidak ada bantahan resmi dari kantor Benjamin Netanyahu terhadap klaim yang dilontarkan media Iran.
Kombinasi antara keheningan resmi, pembatalan kunjungan pejabat tinggi AS, serta pengamanan ekstrem di sekitar kediaman perdana menteri telah membuka ruang bagi spekulasi global.
Semua ini terjadi di tengah konflik yang meledak sejak 28 Februari, ketika serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat memicu perang terbuka dengan Iran. Konflik itu kini telah merembet lebih luas—melibatkan Hezbollah di perbatasan utara Israel dan ketegangan dengan Houthi Movement di Yaman.
Korban jiwa dilaporkan telah melampaui dua ribu orang, dengan lebih dari 1.200 korban di pihak Iran, termasuk pemimpin tertinggi negara itu, Ali Khamenei. Sementara ratusan ribu warga terpaksa mengungsi ketika kawasan Timur Tengah kembali terseret ke pusaran konflik yang semakin sulit dikendalikan.(*)
