Jeumpa Media | Banda Aceh- Persoalan lapangan kerja di Aceh kembali menjadi sorotan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Mei 2026 mencapai 5,89 persen, naik tipis 0,01 persen.
Angka tersebut berarti sekitar enam dari setiap 100 orang yang masuk angkatan kerja di Aceh masih belum memiliki pekerjaan.
Kepala BPS Aceh Agus Andria mengatakan, jumlah penduduk usia kerja di Aceh pada Mei 2026 mencapai 4,2 juta orang. Dari angka tersebut, sebanyak 2,67 juta orang merupakan angkatan kerja, sementara 1,53 juta lainnya masuk kelompok bukan angkatan kerja.
Dari total angkatan kerja, sebanyak 2,52 juta orang telah bekerja. Namun, sekitar 157 ribu orang lainnya masih tercatat sebagai pengangguran.
“Komposisi angkatan kerja terdiri atas 2,52 juta orang penduduk yang bekerja dan sekitar 157 ribu orang merupakan pengangguran. Apabila dibandingkan Februari 2026, terjadi penambahan penyerapan tenaga kerja sekitar 15 ribu orang,” ujar Agus dalam konferensi pers virtual, Rabu (5/8/2026).
Jika dilihat berdasarkan wilayah, pengangguran di perkotaan justru lebih tinggi dibandingkan pedesaan. TPT perkotaan tercatat 6,52 persen, sedangkan di pedesaan berada pada angka 5,44 persen.
Sementara dari sektor pekerjaan, pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Aceh. Sektor tersebut menampung 39,31 persen pekerja. Setelahnya terdapat perdagangan besar dan eceran sebesar 14,77 persen serta industri sebesar 7,12 persen.
BPS juga mencatat status buruh, karyawan, dan pegawai menjadi kelompok pekerjaan terbesar dengan persentase 33,07 persen. Sedangkan kelompok paling kecil adalah mereka yang berusaha dengan dibantu buruh tetap dan dibayar, yakni hanya 4,82 persen.
Menariknya, mayoritas pekerja Aceh justru masih berada di sektor informal. Proporsinya mencapai 62,12 persen, jauh lebih besar dibandingkan pekerja formal yang berada di angka 37,88 persen.
Dari sisi pendidikan, lulusan SMA menjadi kelompok dengan jumlah pekerja terbesar, mencapai 36,76 persen. Sementara mereka yang memiliki pendidikan sarjana menyumbang 14,16 persen dari total penduduk yang bekerja.
“Penduduk bekerja masih didominasi tamatan SMA yaitu sebesar 36,76 persen. Sementara penduduk bekerja tamatan sarjana sebesar 14,16 persen,” kata Agus.
BPS juga mencatat 60,48 persen penduduk bekerja tergolong sebagai pekerja penuh, yakni mereka yang bekerja sedikitnya 35 jam dalam satu minggu. Persentase tersebut naik 0,01 poin dibandingkan Februari 2026.
Namun, masih ada kelompok pekerja yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu. Mereka masuk kategori pekerja tidak penuh yang terbagi menjadi setengah pengangguran dan pekerja paruh waktu.
Pada Mei 2026, tingkat setengah pengangguran tercatat sebesar 9,48 persen. Sementara proporsi pekerja paruh waktu mencapai 30,04 persen.
Data tersebut memperlihatkan bahwa tantangan ketenagakerjaan Aceh tidak hanya soal masih tingginya jumlah pengangguran. Besarnya proporsi pekerja informal dan pekerja dengan jam kerja terbatas juga menjadi gambaran lain mengenai kondisi pasar kerja di Tanah Rencong.(*)
