21 Tahun MoU Helsinki, Mualem Ingatkan Rakyat Aceh Rawat Perdamaian

Jeumpa Media| Banda Aceh- Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga perdamaian Aceh yang telah terpelihara selama 21 tahun. Pesan tersebut disampaikan menjelang peringatan Hari Damai Aceh yang jatuh setiap 15 Agustus.

Melalui video yang diunggah di akun Instagram resminya, Mualem menyampaikan ucapan selamat memperingati 21 tahun perdamaian Aceh. Ia berharap perdamaian yang telah diperjuangkan dan dirasakan masyarakat selama ini dapat terus dijaga serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Mari kita bersama membangun Aceh yang bermartabat, adil, sejahtera, dan damai,” ujar Mualem.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Teuku Kamaruzzaman atau Ampon Man, mengatakan 15 Agustus bukan sekadar tanggal peringatan, melainkan momentum bersejarah yang menandai penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005 antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki, Finlandia.

Menurutnya, kesepakatan tersebut lahir dari keputusan para pemimpin untuk mengakhiri konflik dan membuka jalan bagi masa depan Aceh yang lebih baik.

“Kesepakatan adalah wujud dari kebesaran jiwa para pemimpin yang memilih berdamai untuk membangun Aceh. Di situ ada filosofinya, ada jiwa Aceh, bukan sekadar mengakhiri konflik,” kata Ampon Man.

Ia menambahkan, perdamaian tersebut juga membawa cita-cita untuk menata Aceh secara lebih baik dan bermartabat, yang kemudian dituangkan dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh.

Namun, perjalanan perdamaian selama dua dekade lebih tidak sepenuhnya berjalan mulus. Di satu sisi, Aceh mengalami sejumlah perkembangan, termasuk lahirnya sistem politik baru, keberadaan Lembaga Wali Nanggroe, partai politik lokal, serta dukungan dana otonomi khusus.

Di sisi lain, hubungan politik antara pemerintah pusat dan Aceh masih diwarnai berbagai dinamika. Persoalan politik di tingkat lokal juga turut menjadi bagian dari perjalanan panjang perdamaian tersebut.

Ampon Man menilai berbagai dinamika itu merupakan proses pendewasaan bagi masyarakat Aceh dalam mempertahankan perdamaian.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan sekadar menggelar perayaan Hari Damai Aceh setiap tahun. Yang jauh lebih penting adalah memastikan nilai-nilai perdamaian benar-benar diwujudkan melalui kebijakan dan pembangunan yang dirasakan masyarakat.

Salah satu hal yang kini menjadi perhatian adalah revisi Undang-Undang Pemerintahan Aceh yang masih dinantikan. Ia berharap hasil revisi tersebut tetap sejalan dengan cita-cita dan kepentingan masyarakat Aceh.

“Apakah akan sesuai dengan cita-cita rakyat Aceh atau malah menyimpang dari itu,” ujarnya.

Zikir dan Doa Bersama

Dalam rangka memperingati 21 tahun perdamaian Aceh, Pemerintah Aceh juga menggelar zikir dan doa bersama di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Jumat (14/8/2026) malam.

Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Misran Fuadi, mengatakan persiapan kegiatan telah dilakukan. Acara tersebut diharapkan menjadi momentum untuk mendoakan agar perdamaian Aceh terus terjaga.

Rangkaian kegiatan dimulai pukul 18.30 WIB dengan penyambutan jemaah dan tamu undangan. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan salat Isya berjamaah sekitar pukul 20.10 WIB.

Jemaah kemudian mengikuti pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan dan arahan Gubernur Aceh, serta tausiah yang disampaikan Abu Paya Pasi selaku Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman.

Puncak kegiatan berlangsung pukul 21.00 hingga 22.00 WIB melalui Zikir Akbar Hari Damai Aceh yang dipimpin Tgk Jamaluddin Radyid bersama tim.

Pemerintah Aceh juga mengimbau pemerintah kabupaten dan kota menggelar zikir serta doa bersama pada waktu yang sama di masjid agung masing-masing daerah dengan melibatkan pemerintah, instansi vertikal, dan masyarakat.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *