KPPU Sebut Harga Beras Sulit Turun Lagi

Jeumpa.com | Jakarta –Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) tengah menelusuri penyebab mahalnya harga beras di pasaran. Berkaca pada tren, kenaikan harga beras bukan terjadi sekali ini saja.

Anggota KPPU Hilman Pujana menerangkan, harga beras naik pernah terjadi beberapa tahun lalu. Melihat hal itu, dia menilai harga beras saat ini diprediksi sulit untuk bisa kembali turun.

“Kita melihat pergerakan harga naik ini kalau kita lihat sebetulnya bukan cuma sekarang, kalau kita tilik di tahun kemarin juga mengalami (kenaikan),” ujar Hilman di Kantor KPPU, Jakarta, dikutip dari liputan6 Kamis (29/2/2024).

Dia menjelaskan, kenaikan harga beras biasanya berujung pada harga normal baru di tingkat konsumen akhir. Namun, harga normal ini bukan kembali ke harga sebelum terjadi kenaikan.

Hilman menyebutkan, tren tersebut yang jadi pertanyaan dalam Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan pemerintah dan pelaku usaha perberasan. tren keseimbangan harga baru tersebut yang bakal ditelusuri oleh KPPU kedepannya. Mengingat, KPPU sudah membentuk tim khusus untuk menelusuri aspek pelanggaran dalam fenomena harga beras mahal belakangan ini.

“Ini juga merupakan salah satu materi juga di KPPU, kita melihat fenomena di perberasan ini seperti apa nanti,” tegasnya.

Sebelumnya, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengungkap penyebab beras premium sukit ditemui di pasar ritel moderen. Salah satunya karena harga yang tidak sesuai dari produsen dan harga eceran tertinggi (HET) yang berlaku di ritel moderen.

Anggota KPPU Hilman Pujana menerangkan hal ini diungkap oleh pengusaha dan produsen beras dalam Focus Group Discussion (FGD). Harga beras yang tak cocok tadi jadi penyebab beras langka di toko ritel moderen.

Dia menjelaskan, HET beras di toko ritel moderen itu menjadi hambatan lantaran harga produksi yang juga meningkat. Secara hitungan sederhana, dengan biaya produksi yang naik, maka harga jual beras premium ditaksir lebih tinggi dari HET.

Sebagai solusinya, Hilman mengatakan para produsen dan pemasok beras meminta adanya penyesuaian HET beras premium di toko ritel moderen.

Iya ini khusus yang premium untuk yang modern market memang, seperti tadi yang disampaikan di dalam FGD tadi seperti itu mereka harapannya ada penyesuaian di HET,” ungkapnya.

Berdasarkan pemetaan yang dilakukan KPPU, Hilman mengatakan kelangkaan terjadi hanya di toko ritel moderen. Sedangkan, jumlah beras cukup banyak tersedia di pasar tradisional. Hanya saja yang jadi hambatan lainnya adalah harga beras yang ada di pasar tradisional terbilang tinggi.

“Kalau kelangkaan tadi kan dalam FGD tadi disebutkan kelangkaan ini kan coba kita petakan, kelangkaan yang terjadi ini kelangkaan di mana sih. Apakah di pasar modern di supermarket minimarket dan lain-lain atau juga terjadi di pasar tradisional,” urainya.

“Kalau berdasarkan tadi informasi yang yang dikumpulkan di pasar tradisional masih tersedia stok, meskipun harganya memang mahal,” sambung Hilman. (YM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *