Jeumpa Media | Pada suatu malam yang sunyi, Nabi Muhammad tertidur dalam gua Hira di lereng Jabal Nur. Beberapa cendekiawan berpendapat bahwa gua itu terletak 6 kilometer dari Mekkah, sementara yang lain menyebutkan 7 kilometer.
Ketika malam itu, Jibril turun membawa wahyu dalam bentuk lembaran, ia pun menyampaikan pesan suci Allah kepada Muhammad dengan kata-kata, “Iqra’ (bacalah).”
Namun, Muhammad terkejut dan menjawab, “Saya tidak dapat membaca, Jibril.” Dengan tatapan serius, Jibril mendekat dan mengulangi, “Bacalah.”
Nabi Muhammad penuh dengan kebingungan, bertanya kembali, “Apa yang saya baca?” Jibril menjawab dengan lembut namun tegas, “Dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan, menciptakan manusia dari segumpal darah.”
Mendengar kata-kata itu, Muhammad tersentak. Jibril kembali mendekapnya dan menyuruhnya membaca, “Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan.
Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan Pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.” (Q.S. Al-Alaq: 1-5).
Peristiwa ini disebut sebagai peristiwa Nuzul Quran, momen ketika wahyu pertama Al-Quran turun kepada Muhammad melalui Jibril atas perintah Allah. Sebagian besar ulama sepakat bahwa peristiwa ini juga menandai dimulainya kerasulan Muhammad SAW.
Sebagai sebuah pesan yang abadi, kita diingatkan oleh kata-kata Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, bahwa sebaik-baik di antara kita adalah mereka yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya kepada orang lain.
Dalam keheningan gua yang sunyi, suara wahyu pertama itu menyinari langit dan bumi dengan cahaya ilahi, mengawali perjalanan panjang umat manusia menuju cahaya petunjuk yang abadi. (AP)
