Jeumpa Media | Aceh Barat Daya – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), melalui Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah, melaksanakan pendampingan teknis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Kegiatan ini menindaklanjuti kajian tahun 2023 mengenai pemanfaatan riset dan inovasi dalam pemberdayaan masyarakat miskin di Abdya.
Sri Ayu Suryani, Koordinator Daerah Provinsi Aceh BRIN, bersama timnya akan mengidentifikasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Abdya untuk memetakan model bisnis pemberdayaan masyarakat. “Hal ini bertujuan untuk menurunkan tingkat kemiskinan di daerah tersebut,” ujarnya.
Hafidin, Staf Ahli Bidang Ekonomi Setkab Abdya, menyatakan bahwa Abdya adalah daerah dengan tingkat kemiskinan ekstrem yang tinggi. “Kami berharap BRIN dapat memberikan solusi untuk menurunkan angka kemiskinan,” kata Hafidin.
Etty Tri Widyastuti, Ketua tim pokja kemiskinan Aceh-BRIN, menyebutkan bahwa hasil kajian 2023 mengarahkan pada kebijakan fokus program di lima kecamatan: Babahrot, Jeumpa, Tangan-tangan, Kuala Batee, dan Lembah Sabil. “Kecamatan Babahrot menjadi prioritas karena memiliki jumlah petani miskin terbesar dan potensi pertanian yang besar,” jelas Etty.
Kegiatan pemberdayaan ini juga berkolaborasi dengan Pusat Riset Kependudukan BRIN untuk mengeksplorasi kondisi masyarakat dan potensi sumber daya di Abdya. “Tujuannya adalah untuk mengembangkan dan mengkonfirmasi apakah hasil kajian 2023 sesuai dengan kondisi di lapangan,” ujar Nawawi, Kepala Pusat Riset Kependudukan BRIN.
Pada 30 Mei, BRIN mengunjungi Gampong Pantee Rakyat di Kecamatan Babahrot, yang memiliki tingkat kemiskinan tertinggi. Abu Bakar Idris, Kepala Desa Pasar Pantee, menyatakan, “Masyarakat cenderung nyaman menerima bantuan pemerintah tanpa berusaha mandiri.” BRIN berencana mengadakan pelatihan wirausaha, akses teknologi untuk pengemasan produk, dan pemasaran berdasarkan potensi pertanian dan UMKM.
Selanjutnya, BRIN mengunjungi Gampong Suak Nibung di Kecamatan Tangan-tangan, yang memiliki kelompok peternak bebek telur asin dengan potensi ekonomi besar. “Desa ini berharap bisa menjadi desa mandiri,” kata Kepala Desa Gampong Suak Nibung, Adami Us.
Kepala Bappeda Abdya, Rahmat Sumaidi, mengungkapkan, “Abdya telah menghubungi BRIN untuk mengkaji tingginya angka kemiskinan dan mencari solusi yang tepat.”
Kunjungan terakhir adalah ke pengrajin anyaman sulam benang kasab di Desa Padang, Kecamatan Manggeng, yang telah berhasil melaksanakan pemberdayaan melalui program pemerintah.
“Program BRIN ke depan diharapkan lebih tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kearifan lokal daerah,” pungkas Sri Ayu. (AP)
