Jeumpa Media| Aceh Tenggara- Menurut informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa akibat banjir bandang yang menerjang Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh mengakibatkan satu balita atas nama MA (2) meninggal dunia karena terseret arus banjir.
“Peristiwa ini mengakibatkan satu balita atas nama MA (2) meninggal dunia terseret arus banjir. Dua orang warga lainnya mengalami luka,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Selasa (31/12/2024).
Banjir bandang yang terjadi menerjang Desa Pasir Panjang, Kecamatan Semadam, sedangkan wilayah lainnya mengalami banjir setelah hujan deras mengguyur hampir seluruh wilayah Aceh Tenggara pada Senin malam (30/12/2024).
Merujuk laporan dari BPBD setempat hujan lebat mulai turun pada pukul 19.00 WIB dan berdurasi lama menyebabkan debit air Sungai Lawe Kinga, Sungai Pasar Puntung, Sungai Lawe Alas, Sungai Lawe Bulan, dan Sungai Gunung Malas Bukit Baru meluap hingga ke pemukiman warga sekira pukul 22.00 WIB malam.
Dampak dari banjir Bandang ini telah merusak sejumlah rumah warga. Bahkan banjir juga turut merusak beberapa infrastruktur di Kabupaten Aceh Tenggara.
Dikutip dari Antara, Terdapat tiga jembatan alami penyumbatan diantaranya di Desa Kuning (Kecamatan Bambel), Desa Pasir Puntung (Kecamatan Semadam), dan Desa Bukit Baru (Kecamatan Ketambe).
Bahkan dilaporkan timbunan tanah Jembatan Desa Mbarung, Kecamatan Babussalam jebol dan ambruk.
Sementara jembatan titi gantung di Desa Mendabe rusak berat. Tanggul Lawe Kisam di Desa Biak Muli Baru juga ikut jebol akibat banjir. Terdapat pula irigasi Lawe Ski di Desa Peseluk Pesimbe, Kecamatan Deleng Pokhkison mengalami rusak berat.
Pihak BPBD setempat melakukan penanganan darurat dengan mengerahkan dua alat berat untuk membersihkan material lumpur serta pengerukan sedimen yang berada di sepanjang sisi sungai.
Sedangkan untuk wilayah Aceh Tenggara diperkirakan dua hari kedepan masih mengalami hujan ringan.
Meski demikian, BNPB meminta agar pemerintah daerah dan warga setempat untuk berhati-hati dan waspada pada potensi bahaya hidrometeorologi basah, seperti tanah lomgsor, banjir, banjir bandang, hingga, angin kencang.
Selain itu, pencegatan dan mitigasi dini bisa dilakukan dengan bergotong royong oleh masyarakat sembari tetap memperhatikan keamanan dan keselamatan oleh petugas yang berwenang. Misalnya membersihkan saluran air dari tumpukan sampah hingga susur sungai untuk dapat menghindari sumbatan air ketika hujan, dan memotong ranting-ranting pohon di sekitar rumah atau ruang publik.(RA)
