Budaya dan Adat Aceh yang Unik dan Masih Bertahan

Jeumpa Media | Aceh adalah sebuah daerah yang sangat unik dengan adat dan budayanya yang beragam, Salah satunya upacara adat Aceh yang masih bertahan sampai sekarang ditengah zaman yang semakin modern dan dengan bermacam ragam kecanggihan yang ada saat ini.

Namun di sebagian daerah di Aceh masih mempertahankan adat istiadat yang mereka percayai secara turun temurun.

Budaya Aceh memang sangat terkenal dengan upacara adat dan budayanya yang sakral. Seperti upacara adat untuk kelahiran hingga hal ta’zim yang dilakukan untuk kematian.

Berikut Ini Beberapa Upacara Adat dan Budaya Aceh

Troen U Blang

Upacara Troen U Blang atau juga disebut Kenduri Blang (read sawah) merupakan sebuah upacara hajat yang dilakukan saat memulai musim menanam padi di Aceh.

Upacara tersebut dilakukan dengan tujuan agar tanaman padi tumbuh subur dan memberikan hasil panen yang berlimpah. Sehingga dapat menambah penghasilan ekonomi penduduknya.

Cara pelaksanaanya yaitu memasak bersama di pinggir sawah atau memasak dirumah dan membawanya kesawah untuk dimakan bersama-sama tentunya setelah berdoa bersama yang dipimpin oleh ustad atau imam kampung tersebut.

Tulak Bala

Di dalam kehidupan pastinya akan selalu bala atau musibah baik itu berupa bencana alam atau musibah lainnya. salah satunya cara yang unik di Aceh untuk menolak bala adalah dengan melakukan Upacara Tulak Bala atau Tolak Bala.

Upacara ini biasanya dilakukan pada bulan Shafar tahun Hijriyah yang diyakini bulan panas dan biasanya membawa banyak bahaya.

Tradisi Upacara Tulak Bala biasanya banyak dilakukan oleh masyarakat di Aceh Barat dan Aceh Selatan.

Peutron Aneuk

Upacara Peutron Aneuk biasanya akan dilakukan oleh masyarakat Aceh ketika seorang ibu telah melahirkan bayinya dan sudah waktunya turun tanah.

Adat ini dilakukan dalam waktu yang berbeda-beda, ada yang melakukan setelah usia bayi 7 hari dimana sekalian dengan Aqiqah dan cukur rambut namun ada pula yang menunggu sampai masa nifas si ibu habis dan biasanya di hari ke 44.

Dalam upacara tersebut lebih banyak menggunakan ritual-ritual yang simbolik, seperti merentangkan kain panjang di atas kepala bayi yang setiap sudut kain dipegang oleh wali dari sang bayi, kemudian membelah kelapa diatas kain tersebut hingga air kelapa mengenai kepala bayi.

Ada filosofi sendiri dari ritual tersebut, yaitu suara dari kelapa yang di belah menurut keyakinan masyarakat Aceh agar si bayi tidak mudah terkejut bila ada suara keras seperti suara petir dan lainnya, sedangkan air kelapa yang jatuh ke kepala bayi diyakini agar si anak bisa berpikir dengan kepala dingin ketika ada masalah yang dihadapinya.

Dan setelah kelapa terbelah diberikan kepada kepada kedua orang tua yang melambangkan agar terus rukun.

Samadiyah

Samadiyah merupakan tradisi adat dan budaya Aceh untuk berdoa secara bersama-sama untuk mendoakan orang yang meninggal dunia.

Samadiyah biasanya dilaksanakan selama tujuh hari tujuh malam secara berturut-turut setelah meninggal dunia, namun ada juga yang melakukan di malam-malam ganjil saja dari malam satu, tiga, lima dan tujuh.

Karena sudah menjadi tradisi walau tanpa di undang masyarakat sekitar akan datang kerumah duka dengan membawa makanan dan minuman untuk menghibur dan berdoa bersama dengan pembacaan zikir dan surat Yasin.

Selain dilakukan dirumah duka samadiyah ini juga dilakukan di meunasah atau masjid setempat.

Meugang

Ini salah satu tradisi yang bertahan sampai saat ini dan hanya ada di Serambi Mekkah sehingga semua masyarakat Aceh sangat antusias dalam menyambut hari special ini karena hari meugang hanya ada di momen tertentu saja yaitu sehari sebelum puasa Ramadhan, sebelum lebaran Idul Fitri dan sebelum lebaran Haji atau Idul Adha.

Hari meugang yaitu hari dimana semua orang menu utama adalah daging, karena itu ini merupakan tradisi yang sangat unik karena mungkin ada sebagian orang yang tidak sanggup beli daging tapi hari itu semua masyarakat Aceh memiliki menu yang sama tanpa memandang si kaya dan si miskin.

karena di hari itu aparat gampong atau kepala desa akan membagikan daging gratis kepada keluarga yang tidak mampu sehingga tidak ada warga yang tidak masak daging.

Semua rumah akan dipenuhi dengan aroma masakan daging baik sapi atau kambing atau bahkan kerbau disebagian daerah. Daging yang telah dimasak akan dinikmati bersama dengan keluarga, kerabat, anak yatim piatu, dan juga kaum dhuafa.

Sangat luar biasa kan Adat dan Budaya di Tanah Rencong tersebut, apakah rakan jeumpa sudah melihat langsung atau ikut dalam salah satu adat di atas?(YM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *