Jeumpa Media | Pidie – Masih tinggal di rumah tak layak dengan kondisi ekonomi yang memprihatinkan membuat istri Pj Gubernur Aceh, Melani Subarni kunjungi satu keluarga di Gampong Tuha Gogo, Kecamatan Padang Tiji, Pidie, Kamis (09/08/2024).
Sebagaimana pantauan Jeumpa Media, Melani dan rombongan yang hadir yaitu istri atau ibu Pj Bupati Kabupaten Pidie turut memberikan bantuan sembako kepada satu keluarga yang sempat viral di sosial media,
“Kami ingin mengetahui secara langsung, apa sebenarnya yang terjadi dengan keluarga Tursina. Seperti pemberitaan yaitu keluarga ini tinggal dirumah tak layak dipinggir sungai dan masih ditanah wakaf, juga sampai dua hari anak-anak ini kelaparan tidak makan,” ujarnya.
Melani juga menambahkan bahwa melihat kondisi tersebut, harusnya pihak berwenang dapat membantu, terlebih mereka memiliki empat orang anak yang butuh perlindungan.
Seperti diketahui sebelumnya, Kisah nyata ini awalnya diunggah oleh akun media sosial TikTok Toko Aisar Jaya pada Jumat, (2/8/2024).
Video tersebut disertai dengan keterangan ketika seorang guru menanyakan kepada murid lainnya terkait Tursina, yang duduk di kelas 8 MTsN 11 Blang Kula, Grong-Grong yang telah absen beberapa hari.
Murid lain memberitahu sang guru bahwa Tursina sakit perut. Ketika bertanya lebih lanjut tentang sakit yang dialami, murid menjawab bahwa tursina sakit sebab tidak makan karena miskin.
Mendengar kabar itu, setelah selesai belajar, guru Fadhlina dan Fitri langsung mendatangi rumah Tursina. Setibanya di rumah, para guru tercengang melihat kondisi gubuk reot yang ditempati muridnya.
“Ya Allah, masih ada rumah seperti ini di zaman yang serba canggih sekarang ini,” terbesit dalam hati salah satu guru.
Kehadiran dua guru itu disambut oleh orangtuanya. Ayah Tursina, Marzuki, dan ibunya, Masyitah bercerita panjang lebar tentang kehidupan mereka.
Marzuki, yang berprofesi sebagai buruh tani, setiap hari banting tulang demi menghidupi keluarganya. Mereka tinggal bersama istri dan empat anak di gubuk dengan kondisi ekonomi yang sulit. Anak-anaknya sering kali harus menahan lapar karena mereka tidak selalu memiliki cukup makanan untuk sarapan.
Akibat kondisi tersebut, anak-anak sering mengalami sakit perut dan harus absen dari sekolah. Ketidakhadiran ini tentu berdampak buruk pada prestasi akademisnya, yang semakin menambah beban mental keluarga.
Demikian juga berdampak pada kesehatan, dimana mereka tinggal dalam lingkungan tanpa fasilitas sanitasi yang memadai, sehingga beresiko terkena penyakit semakin tinggi.
Setelah mendengar kisah tersebut, para guru merasa sangat prihatin dan berharap perhatian segala pihak untuk membantu keluarga tursina.
Sementara itu, Camat Padang Tiji, Asriadi, mengatakan bahwa masyarakat setempat sudah mengetahui kondisi keluarga ini dan upaya untuk membantu memang telah ada.
“Mereka tinggal di gubuk reot di atas tanah wakaf sekitar dua tahun ini. Namun sebelumnya sebenarnya mereka pernah mendapat bantuan rumah di Pidie Jaya. Tapi mungkin karena himpitan ekonomi, rumah itu dijual,” ujarnya Kamis, (8/8/2024)
Menurut Asriadi, pihaknya bersama perangkat gampong sudah beberapa kali melakukan musyawarah terkait kondisi keluarga Tursina. Namun hingga kini belum ditemukan solusi lantaran mereka tidak memiliki tanah untuk diberikan bantuan rumah.
“Tapi kita tetap upayakan untuk membantu dan mencari solusi terbaik untuk mengatasi hal tersebut,” tutup Camat. (Cupo Mala)
