Jerit Pilu PKL Banda : Kami Siap Ditertibkan Bukan Dihilangkan

Jeumpa Media | Banda Aceh – Ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang digusur pada malam lebaran, kini terus mengupayakan mediasi kepada pihak pemerintah, agar tetap bisa mengais rezeki di lokasi yang telah bertahun-tahun mereka geluti di Jln. Tgk Chik Pante Kulu, Minggu (28/04/2024).

PKL memang selalu ada di tiap kota terutama di lokasi keramaian, meski keberadaan mereka illegal, karena berjualan di tempat-tempat terlarang seperti badan jalan protokol. Namun para PKL ini tetap nekad demi tuntutan ekonomi, pastinya.

Bertahun-tahun menempati tempat yang sama, tentu membuat para PKL ini menggantungkan mata pencahariannya disana. Meski potensi ditertibkan selalu ada terlebih menjelang idul fitri.

Kepada Jeumpa Media, Sidqiah penjual pakaian jadi perempuan yang berjualan selama 30 tahun lamanya mengaku terkejut atas peristiwa penggusuran yang terjadi tepat di malam idul fitri, sebab dirinya belum menerima pemberitahuan.

“Kurang lebih sekitar 200 lapak yang digusur pada malam lebaran. Tahun lalu, kami juga pernah disuruh pindah pada malam lebaran karena ingin membersihkan sampah di sekitar itu. Tapi setelah itu kami bisa kembali berjualan. Namun, kali ini, kami digusur tanpa sepengetahuan dan tidak ada kejelasan apakah bisa kembali berjualan sampai hari ini,” jelasnya.

Bagi Sidqiah dan teman-temannya, jika pergusuran hanya beberapa hari saja, tentu masih sanggup mereka terima. Kalaulah mereka harus mengirit makanan sehari-hari, maka tidaklah berlangsung lama. Sayangnya, Pemko Banda Aceh kali ini tak main-main, petugas dari Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh masih tetap stand by di lokasi yang telah hampir 20 hari berlangsung sejak malam pergusuran.

Sejalan dengan Sidqiah, Salbiah pedagang lainnya mengaku bahwa efek pergusuran tersebut, ia sekeluarga hidup kekurangan. Bahkan dulu pun pendapatan ketika sepi cuma Rp 20.000 sehari. Apalagi sekarang, sama sekali hilang.

“Sekarang kami makan Indomie di rumah, karena uang sudah tidak cukup lagi untuk menghidupi keluarga. Bisa berjualan aja, sebenarnya pendapatan kami juga cuma pas-pas makan, belum lebih. Apalagi jika tidak bisa lagi berjualan.

“Rohingya dikasih makan dan tempat tinggal, hidupnya enak. Sementara kami, terbiarkan dan tak ada yang peduli harus kemana,” isaknya dengan mata berkaca-kaca.

Salbiah berharap, pemerintah tidak meremehkan keberadaan PKL, karena tentu mereka adalah orang-orang yang kekurangan dana sehingga tidak mampu menyewa lapak dagangan yang layak.

“Kami siap ditertibkan yaitu untuk dirapikan, dan saling menghargai. Biarpun diambil pajak dan apapun peraturannya, selama kami tetap bisa berjualan, sementara kalau kami digeser ke tempat lain yang sepi pembeli, darimana anak-anak kami bisa makan,” tambahnya.

Sumber : Sekelompok ibu-ibu PKL yang menyampaikan keluh kesahnya setelah digusur.

Kemudian Nurida (46) pedagang aksesoris menyebutkan bahwa dulu mereka (PKL) sempat membayar sejumlah uang untuk juru parkir (jukir) karena telah menggunakan lapak mereka.

“Dulu sebelum digusur kami bayar ke jukir karena sudah ambil lapak mereka. Dengan nominal yang kira-kira 10.000 perhari, tapi kami bayarnya bulanan. Jadi intinya kami gak ambil tempat secara cuma-cuma,” tuturnya.

Lalu Safrizal, ketua pasar Jl. Tgk Chik Pante Kulu berharap PJ Walikota Banda Aceh dapat memberi solusi yang bijak tanpa harus menghilangkan mata pencaharian mereka,

“Untuk Pj Amiruddin, kami ini masyarakat Aceh, khususnya Banda Aceh dan Aceh Besar sepenuhnya. Kalau mau gusur, tolong beritahu sesama pedagang sebelum digusur dan beri penjelasan serta solusi yang bijak. Jangan jadikan Kota Banda Aceh kota elit tapi rakyatnya sulit,” sebutnya.

Tanggapan Pemko Banda Aceh

Sehubungan dengan itu, Aqil Kepala Bidang Perparkiran Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh membantah bahwa pihaknya mengambil iuran dari para PKL.

“Iuran parkir tidak ada dan kalau setelah penertiban terbukti menyewakan lagi lapak dengan PKL, tidak ada peringatan langsung saya batalkan kontraknya,” tegasnya.

Menurut Aqil, Dishub telah melakukan penertiban sejak dulu dan para PKL tersebut tidak pernah mendapat izin berjualan disana.

Hal senada disampaikan Muhammad Rizal, Kasatpol PP dan WH kota Banda Aceh ini juga menyebutkan bahwa pembersihan akan terus dilakukan pelan-pelan sampai kota Banda Aceh menjadi kota yang tertib dan rapi.

Terkait penggusuran yang tanpa pemberitahuan dan tiba-tiba, Rizal dengan tegas membantah hal tersebut.

“Kalau dadakan berarti tidak ada pemberitahuan. Tapi ini sudah melalui prosedur. Pertama disurati oleh Dishub, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Camat Baiturrahman, dan surat dari satpol PP. Dari Camat sejak 5 April sudah diperingati lewat surat. Diskominfo juga telah keliling kasih tau,” jelasnya.

Pantauan Jeumpa Media di lapangan, Jln Chik Pante Kulu memang berada strategis di pasar Aceh, persis samping Mesjid Raya. Dahulu, di kiri dan kanan badan jalan dipenuhi lapak-lapak PKL. Disatu sisi mempersulit pengendara motor yang lewat karena letak lapak yang semrawut.

Di sisi lain juga mempermudah bagi pembeli yang butuh barang dengan cepat tanpa harus turun dari kendaraannya.
Sementara untuk pengendara mobil, dahulu sama sekali tidak bisa memasuki jalan tersebut karena padat dengan lapak PKL serta pengunjung.

Kini setelah mengalami pergusuran. Jalan tersebut terlihat sangat lapang dan lebih sepi. Dari sisi keindahan kota, memang terlihat rapi namun beberapa pemilik toko juga mengakui hal tersebut mengurangi antusiasme pembeli dan juga merugikan toko-toko grosir yang ada.

“Memang lebih bersih dan rapi, tapi kami juga sedih, setelah ngak ada mereka, jualan juga lebih sepi karena mereka itu ibaratnya jantung ekonomi di sini,” ujar Martunis, penjual di toko pakaian.

Selain Martunis, Aid pedagang alas kaki juga menyebutkan bahwa ia tidak setuju dengan penggusuran PKL.

“Jadi sepi gak ada mereka. Kami pedagang senang dengan keberadaan mereka. Kalau pun ada yang gak senang itu hanya segelintir,” ungkapnya.

Diketahui bahwa penggusuran dilakukan pada malam lebaran pukul 24.00 WIB. Satpol PP dan instansi terkait melakukan penertiban sesuai tugas masing-masing dan Dishub menutup ujung jalan agar wilayah pembersihan tidak dimasuki pihak luar.

Paska pergusuran di sosial media, banyak pihak pro dan kontra. Afri, salah satu pedagang menyesalkan lahirnya komentar-komentar netizen yang bahagia ketika mereka digusur.

“Sebagian pihak senang dan tertawa kami tergusur. Padahal sebentar lagi hari raya Qurban, dimana citra Islam yang membiarkan saudara seimannya kesusahan.

Sementara pengungsi Rohingya, berduyun-duyun bantuan berdatangan. Mereka tinggal makan dan tinggal hidup gratis tanpa bekerja keras seperti kami,” protes ibu muda ini dengan air mata yang berlinang.

Terlepas dari cita-cita memperindah tata Kota Banda Aceh, yang jelas ada ratusan keluarga, ratusan anak yang kini semakin sering menangis karena tak ada makanan yang layak ditengah kehidupan yang serba sulit. Akses lapangan kerja yang sangat terbatas sementara kebutuhan hidup tak terelakkan terus mengalami peningkatan.

Pastinya mereka menginginkan agar ditertibkan, bukan dihilangkan atau solusi bijak lainnya yang lahir dari Pemko Banda Aceh demi asap dapur tetap mengepul. (Tsy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *