Jeumpa Media | Banda Aceh – Danau Laut Tawar yang terletak Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh menjadi salah satu objek destinasi untuk berwisata di Aceh. Para pengunjung dapat menikmati fasilitas sekoci, perahu karet, sampan, hingga speed boat untuk mengelilingi danau.
Dilansir dari laman Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, selain mengitari danau yang luasnya 5.472 hektar, dengan panjang 17 km serta lebar 3,219 km, wisatawan juga dapat healing dengan berenang di tepian danau, ber-speed boat ria bersama teman-teman dan keluarga, serta mengabadikan kenangan di Dermaga Pante Menye.
Sementara itu, selain keindahan alam dan segala fasilitasnya, Danau Laut Tawar juga menyimpan legenda yang disebut menjadi awal mula terbentuknya Danau Laut Tawar.
Legenda menyebutkan jika danau terbesar di Aceh ini erat hubungannya dengan legenda Puteri Pukes.
Legenda Puteri Pukes
Puteri Pukes tinggal di Kampung Nosar, sebuah kampung di daerah Aceh bagian tengah. Dia baru saja menikah dengan seorang lelaki dari Samar Kilang, yang berjarak cukup jauh dari Kampung Nosar.
Sesuai adat Gayo, setiap perempuan yang menikah harus ikut ke kampung suaminya dan tinggal di sana selama-lamanya. Hal ini sungguh menyiksa perasaan Puteri Pukes.
Namun, tak dapat ditolak, hari perpisahan antara Puteri Pukes dengan kedua orangtuanya pun terjadi.
”Kalau engkau sudah meninggalkan kampung ini, jangan pernah menoleh ke belakang, anakku. Supaya engkau tidak terbayang-bayang wajah ibu dan ayahmu. Kami sudah ikhlas melepasmu. Berbahagialah engkau bersama suamimu,” pesan ibu Puteri Pukes.
Puteri Pukes akhirnya meninggalkan rumah dan kedua orangtuanya dengan perasaan hancur.
Puteri Pukes berjalan amat pelan. Setelah agak jauh dari rumah, dia berharap masih bisa melihat wajah ibu dan ayahnya untuk terakhir kali. Puteri Pukes lupa akan nasihat ibunya. Dia pun menoleh ke belakang.
Serta merta langit menjadi gelap gulita. Awan bergulung-gulung seperti hendak runtuh. Petir menyambar-nyambar disertai angin yang sangat kuat. Hujan turun dengan lebat. Rombongan Puteri Pukes, suaminya, dan para pengawal pun berlindung di dalam sebuah gua.
Beberapa waktu kemudian, hujan mulai reda. Pengawal hendak memanggil puteri Pukes untuk bersiap-siap meneruskan perjalanan.
Namun, pengawal terkejut karena yang ada hanyalah seonggok batu yang menyerupai tubuh Puteri Pukes yang sedang menangis. Kedua mata patung itu benar-benar mengeluarkan air. Lama kelamaan air itu membentuk sebuah danau yang sangat luas, yang kemudian disebut Danau Laut Tawar.
Hingga kini patung Puteri Pukes masih ada di sebuah gua yang disebut juga sebagai Gua Pukes. Sesekali patung itu akan menangis, mengeluarkan air seperti air mata.
