Oleh: H. Hasanuddin, M. Ed (Tu Sudan)
Renungkan Sejenak
Kebanyakan dari kita terpola cara berpikir ingin hidup tenang di hari tua, duduk-duduk tanpa beban, hanya bermain dengan cucu, reunian, jalan-jalan kesana kemari.
Kita ingin hidup di zona nyaman atau kita hanya berpikir menghabiskan masa tua dengan shalat dan membaca Quran dari waktu ke waktu, tanpa kegiatan lain.
Fenomena mindset yang terjadi di sekitar kita. Ketika kita belum memasuki pensiun pun, kita sering merasa bukan saatnya lagi untuk aktif.
Kita kehilangan gairah. Bahkan mungkin kehilangan arah, mau apa..? mau ke mana..? untuk apa…? Hanya ingin hidup tenang di zona nyaman. Hanya ingin bersenang-senang, tak ingin bergerak.
Kita bahkan cenderung hanya ingin memikirkan diri sendiri. Makin tak peduli dengan sesama. Kita merasa sudah saatnya istirahat.
Bukankah begitu? Seperti itu pula dulu saya berfikir. Sebenarnya, adakah Islam mengajarkan pola pikir semacam itu tentang hari tua?.
Alhamdulillah, Allah memberi jawaban dengan mempertemukan saya kepada seseorang, sambil membaca Al Qur’an Surah Al-Insyirah: 7-8.
“Maka apabila engkau sudah selesai mengerjakan satu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh sungguh urusan yang lain. Dan kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” Kitab Sirah Nabawiyah.
Rasulullah memulai hidup baru di usia 40 tahun. Demikian pula sahabat-sahabat beliau, seperti Abu Bakar Siddiq yang lebih muda 2 tahun enam bulan dibanding Rasulullah.
Di usia itu, Rasulullah dan para sahabat memasuki perjuangan baru, meninggalkan kenyamanan yang selama ini mereka rasakan…
Harta, mereka infaqkan. Martabat manusia mereka perjuangkan. Bukannya bersantai dan stagnan, tapi semakin aktif dan dinamis.
Di usia tua Rasulullah tidak sibuk dengan shalat dan membaca Al Quran saja. Mulai usia 53 tahun justru Rasullullah makin aktif membina hubungan dengan sesama manusia.
Membangun masyarakat madani (civil society) di Madinah yaitu membangun konsep ibadah yang tidak hanya membangun hubungan dengan Allah, tapi juga membangun hubungan dengan manusia.
Beliau semakin bermasyarakat, semakin terlibat dalam kehidupan sosial. Artinya, memasuki usia pensiun bukan alasan kita untuk melepaskan diri dari kehidupan sosial dan hanya sibuk dengan diri sendiri.
Hingga akhir hayatnya Rasulullah tidak pernah diam dan tidak berkeinginan beristirahat. Beliau juga tidak wafat dalam keadaan pensiun karena beliau tetap memimpin umatnya.
Pensiun Nabi Muhammad SAW adalah Kematian Kematian.
Begitu juga sahabat-sahabat Rasulullah yang lain.Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib,
Mereka pensiun setelah wafat. Bahkan Abu Ayyub al-Anshari berangkat berperang menghadapi Kerajaan Byzantium pada usia 93 tahun.
Maka konsep pensiun yang umum dipahami masyarakat membuat kita lupa bahwa: bertambah usia itu berarti kesempatan hidup kita makin berkurang.
Maka pergunakan sisa usia kita dengan kerja yang bermanfaat, karena manusia sukses versi Islam itu menurut hadist adalah:
“Manusia terbaik di antaramu adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”
Justru dengan bertambah usia, kita harus semakin merambah dunia. Berbagi kepada yang membutuhkan dan menjadi sosok bermanfaat.
Bukan berpikir untuk hidup santai, menghabiskan waktu dengan hasil lain yang kurang manfaat.
Karena semakin pasif seseorang, semakin lemah otot-ototnya juga semakin lemah otak untuk berfikir, maka terjadilah pikun.
Jika kita ingin mempersiapkan hari tua, selain menyiapkan uang agar tidak menjadi beban keluarga, yang lebih penting adalah menyiapkan apa yang bisa kita lakukan agar kita tetap bermanfaat bagi keluarga, bagi sesama, masyarakat, sampai saatnya kita menutup mata.
Menjadi tua bukan alasan untuk diam saja & berhenti bekerja. Merasa tua dan berpikir “bukan saatnya lagi untuk hidup aktif dan dinamis adalah bukanlah pilihan yang baik & tepat”. Justru, kita harus hidup dengan lebih bersemangat.
Jadi, tidak ada kata pensiun di mata Allah SWT.
Terus berusaha, berikhtiar & menuntut ilmu, beramal makruf dan nahi munkar, hingga ajal menjemput & ruh meninggalkan jasad kita.
