Jeumpa Media | Jakarta-Korban penipuan online yang diketahui mencapai 260 orang dari 20 negara, termasuk Warga Negara Indonesia (WNI) berhasil dibawa ke Thailand oleh kelompok etnis bersenjata Myanmar pada Rabu, (12/2/2025).
Hal ini dikonfirmasi oleh Judha Nugraha, Direktur Perlindungan Kementerian Luar Negeri Indonesia. Namun ia belum dapat mengonfirmasi identitas WNI yang menjadi korban.
Saat ini, para korban masih menjalani pemeriksaan untuk memastikan untuk dimintai keterangan lebih lanjut terkait tindak perdagangan manusia.
Dilansir dari BBC, para korban terjebak dan terpaksa untuk bekerja di wilayah Kyauk Khet, sebuah desa di negara bagian Kayin di perbatasan Thailand dengan Myanmar.
Modus penipuan cukup beragam, mulai dari tawaran gaji tinggi atau penempatan kerja di daerah Thailand, bukan Myanmar. Biasanya, para korban memiliki kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing seperti Inggris dan Mandarin.
Korban akan dipaksa untuk melakukan penipuan secara online seperti penipuan asmara, kripto, judi ilegal hingga pencucian uang. Para korban terus terjerat dalam waktu yang lama dan dapat dibebaskan jika pihak keluarga menebus mereka dalam nominal yang cukup besar.
Diketahui pada minggu lalu, Paetongtarn Shinawatra, Perdana Menteri Luar Negeri Thailand berkolaborasi dengan Xi Jinping, Pemimpin China berkomitmen untuk menutup pusat penipuan di perbatasan Thailand-Myanmar.
Thailand telah memutuskan distribusi bahan bakar dan listrik ke sisi perbatasan Thailand serta memperketat prosedur perbankan dan visa guna mencegah para pelaku penipuan melakukan transit pekerja di Thailand.
Para korban diketahui berasal dari berbagai negara, diantaranya terdapat 221 pria dan 39 wanita yang berasal dari Ethiopia, Kenya, Malaysia, Filipina, Cina, Taiwan, Pakistan, Indonesia, Nepal, Laos, Uganda, Burgundi, Brasil, Tanzania, Nigeria, India, Ghana, Kamboja dan Srilanka.(Hul)
