Jeumpa Media | Banda Aceh – Kementerian Komunikasi dan Informasi memperluas layanan internet di wilayah berpotensi pengembangan industri perikanan di Aceh.
Wakil Menteri Komunikasi dan Informasi (Wamenkominfo) Republik Indonesia (RI), Nezar Patria mengatakan Langkah ini mendukung ekosistem bisnis digital Tanah Rencong. “Kita berharap segera dieksekusi. Senin, 8 Mei 2024.
Dia juga menyebutkan ada 536 titik masih belum terkoneksi internet (black spot) atau tidak ada Base Transceiver Station (BTS) di Aceh.
Kondisi itu telah dilaporkan oleh Pemerintah Aceh dan saat ini sedang diproses Kemenkominfo. Daerah-daerah bakal dibuka layanan internet tersebut, akan dicek atau diverifikasi terlebih dahulu. Jika berpotensi mendapat jaringan, maka dibangun BTS sesuai Program Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (Bakti).
Namun bila lokasi industri perikanan tidak bisa memanfaatkan jaringan internet melalui BTS, akan diupayakan memanfaatkan Satelit Satria 1. Daerah dimaksud rata-rata berada di kawasan pegunungan.
“Sehingga nanti ada daerah yang potensial untuk pengembangan industri perikanan dan membutuhkan satu koneksi lebih baik,” ujar Nezar.
Perluasan layanan internet merupakan transformasi membentuk masyarakat dan ekonomi berbasis digital. Hal ini juga salah satu bagian dari Indonesia Digital 2045.
Dikutip dari AJNN Sebelumnya, Wamenkominfo RI, Nezar Patria, meresmikan program contract farming implementasi budidaya udang berkelanjutan melalui teknologi, di Banda Aceh, Rabu, 8 Mei 2024.
Program yang digerakkan perusahaan teknologi akuakultur asal Indonesia, eFishery tersebut, diperuntukan untuk para petambak udang di Aceh. Tujuannya mendorong produksi dan meningkatkan peluang investasi budidaya udang vaname.
“Pengalaman yang cukup inspiratif, bagaimana teknologi digunakan untuk meningkatkan produksi tambak ikan dalam konteks ini adalah udang di Aceh,” kata Nezar di Banda Aceh.
Teknologi digital dalam program contract farming cukup tepat guna dan simpel. Sebab menjalankan budidaya dengan menggunakan teknologi terkini.
Para penambak, bisa memantau pertumbuhan udang dan memberi pangan hanya memanfaatkan koneksi internet. Seluruh perintah dan pemantauan bisa menggunakan aplikasi.
Melihat banyak manfaatnya, Nezar, berharap pengalaman yang didapat dari program ini bisa terus dikembangkan di tambak lain seluruh Aceh. Contract farming diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas budidaya udang di Tanah Rencong (Aceh).(ym)
