Mengenal Sosok ‘Dilfa Cake’, dari IRT Menjadi Pengusaha Kue Sukses

Jeumpa Media | Banda Aceh – Saat ini tidaklah asing jika perempuan memiliki hobi memasak atau membuat kue.

Banda Aceh misalnya, geliat bisnis kuliner begitu meningkat. Kita bisa melihat dari banyaknya usaha rumahan atau Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terus menjamur.

Latifah atau yang akrab disapa dengan panggilan Kak Dilfa adalah salah satu perempuan sukses dalam bisnis UMKMnya. Ibu Rumah Tangga kelahiran 17 Juli 1992 ini menghabiskan masa kecil hingga beranjak dewasa di Melaboh, Aceh Barat.

Hingga akhirnya saat ingin melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah, Dilfa pindah dan memilih Unsyiah untuk melanjutkan pendidikannya. Perempuan lulusan FKIP ini mengawali usahanya dengan berjualan pakaian dan barang-barang unik lainnya pada tahun 2010 secara online, saat ia masih duduk di bangku kuliah.

Ibu dari tiga anak ini baru mulai menekuni usaha kuenya sejak pertengahan tahun 2014 silam. Hebatnya, Dilfa mengaku tidak memiliki hobi memasak atau pun pintar masak layaknya pengusaha kue lainnya. Bahkan resep-resep kue yang ia buat dipelajari secara online. Kue yang dilfa buat awalnya hanya dibagikan secara gratis, itu adalah cara promosi yang paling mudah menurutnya.

Diakuinya, usaha ini mampu bertahan dari awal berdiri hingga sekarang dengan sepak terjang yang bisa dikatakan tidak mudah. Bahkan ada momen saat ia membuat kue sebanyak 10 loyang, hanya 1 loyang yang laku terjual, dan sisanya di bagikan kepada teman-teman kampusnya.

Merasa selalu ada yang kurang dengan kue hasil buatannya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengikuti kursus. Ia juga menuturkan bahwa, saat dulu biaya yang dibutuhkan untuk privat class relatif sangat murah, hanya sekitar Rp 100.000, sudah bisa mendapatkan beberapa macam resep kue.

Di kediamannya yang berlokasi di Jalan Punge Blang Cut, Kec. Jaya Baru, Kota Banda Aceh, akhirnya dilfa membuka gerai kue di garasi rumahnya dengan bermodalkan ilmu yang dia dapat dari kursus dan uang Rp 600.000 yang diberikan oleh mertuanya.

“Sampai kapanpun akan teringat modal awal cuma Rp 600.000, pinjam sama mertua. Belajar dan belanja bahan dari uang itu, untuk mixer, oven dan cetakan semua pinjam punya mertua, semua dikasi sama mertua”, Ucap dilfa.

Awal-awal memulai usahanya Dilfa hanya membuat 2 macam kue, brownies dan donat saja. Ia mempromosikan kuenya di semua sosial media yang ia punya. Dulu dilfa hanya di bantu oleh 1 orang karyawan, tapi kini ia di bantu oleh 13 orang karyawan dan mampu membuat 20 hingga 25 jenis kue dan jajanan lain per harinya.

Macam-macam kue produksi Dilfa Cake

 

Beragam jenis kue pun mulai diproduksi Dilfa untuk memenuhi permintaan konsumen, sebut saja pizza mini, donat paha ayam, donat jadul, donat bomboloni, roti sobek, roti abon, roti sisir, cinnamon roll, brownies kukus, brownies fudge, milkbun, risol mayo, risol ayam rendang, risol ayam jamur, kue lapis, mie gomak, minuman jelly dan masih banyak jajanan lainnya.

Macam-macam kue produksi Dilfa Cake

 

Produksi kue dan jajanan ini mulai dari jam 08.00 pagi sampai jam 18.00 sore, dan kalau ada orderan tambahan yang di mulai diatas jam 18.00 sore, maka karyawan dianggap lembur dan mendapat penghasilan tambahan.

Lanjutnya, apabila orderan harian lebih banyak dari biasanya , maka karyawan akan mendapatkan penghasilan tambahan lagi yang dianggap bonus.

Menurut Dilfa, ia konsisten menjaga kualitas dengan bahan baku premium namun dibanderol harga yang terjangkau. Hal itu tentu menjadikan pelanggan selalu puas dengan penawaran rasa dan harga.

”Kue yang Dilfa buat semua harganya terjangkau, tapi dengan kualitas yang sama. Dilfa mau semua orang bisa menikmati kue enak. Karena semua orang boleh makan enak”, katanya.

Dilfa saat menjajakan kue pribadinya

 

Sosok ibu rumah tangga ini juga memotivasi semua pihak utk mengikuti jejak suksesnya. Jika selama ini, bisnis kue rumahan lebih kental dianggap sebagai jenis usaha sampingan atau sekedar cukup menambah keuangan keluarga saja, namun bagi Dilfa kini usahanya bisa menjadi penghasilan utama dan mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Pada awalnya omzet perbulan hanya 2 juta saja, kini Dilfa mengaku omzet kotor bulanannya hampir menyentuh angka 100 juta rupiah.

“ Tapi itu penghasilan kotor ya, karna nanti kan banyak juga pengeluaran seperti bahan, kemasan, listrik dan juga makan karyawan dari awal kerja sampai selesai, juga kadang karyawan mau jajanan lain, tapi jumlah penghasilan itu juga relatif berbeda tiap bulannya“ tambahnya.

Dilfa juga menjelaskan selain kue dan jajanan yang ia jual di garasi rumahnya, sekarang juga banyak yang memesan kuenya untuk acara pernikahan dan acara kantor.

“Hampir setiap hari pasti ada dinas yang memesan kue kotak. Sebut saja Dirlantas, Polda Aceh, Bank, dan masih banyak kantor lainnya” tuturnya.

Melihat permintaan pasar yang semakin bagus, ada keinginan Dilfa untuk pindah ke toko yang mudah di akses oleh konsumen. Karna ia juga menuturkan bahwa akses menuju rumahnya juga agak masuk ke dalam lorong. Tapi, Alhamdulillah setiap hari dagangannya laris manis.
” Jadi kalau ada sisa itupun sedikit, dan biasanya akan kita bagi ke konsumen yang dianggap itu bonus kue” terang Dilfa.

Ibu muda ini juga mengaku rezeki yang didapat saat ini adalah keberkahan yang Allah berikan untuknya.

“Tentu, semua tidak terlepas dari doa suami, orang tua dan juga mertua yang memberikan modal awal” , lanjutnya

Karna rasa syukur tersebut, Ia juga berencana berangkat umroh dan memberangkatkan kedua orang tua, kedua mertuanya serta 1 orang karyawan setianya dari awal ia merintis usaha.

“Insyaallah akan dilaksanakan tahun ini pada bulan Agustus mendatang” tambahnya.

Perempuan yang tergabung dalam organisasi sosial Partner Berbagi ini juga berpesan kepada kepada teman-teman yang ingin membangun usaha untuk tidak gampang menyerah dan harus semangat.

“Jualan harus tepat waktu, jangan kendor, jangan angin-anginan walaupun mungkin kurang laris, dan harus benar-benar konsisten. Dan jangan lupa untuk selalu mendahulukan orang tua dalam segala hal” pungkasnya.

Dilfa adalah salah satu sosok perempuan inspiratif di Kota Banda Aceh. Kata kunci yang dapat dipetik adalah semangat konsistensi dan pantang menyerah menggapai sukses. (Fa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *