Menjadi Korban Bullying dan Dampak Secara Psikologis

Jeumpa.com – Perilaku bullying merupakan perilaku yang merugikan siapapun, baik itu korbannya, pelakunya maupun saksi-saksi yang menjadi terjadinya bullying tersebut. Hal tersebut terjadi dikarenakan kesulitan dalam pengendalian emosi pada saat menghadapi permasalahannya.

Istilah bullying berasal dari bahasa inggris yaitu berasal dari kata bull yang berarti banteng yang senang merunduk kesana kemari. Secara etimologi kata “bully” berarti penggertak, orang yang mengganggu yang lemah. Bullying dalam bahasa Indonesia disebut “menyakat” yang artinya mengganggu, mengusik, dan merintangi orang lain (Wiyani, 2012).

Selain itu olweus (2014) mengatakan bahwa bullying adalah perilaku negatif yang mengakibatkan seseorang dalam keadaan tidak nyaman atau terluka dan biasanya dapat terjadi secara berulang-ulang.

Maraknya scholl bullying  yang terjadi di sekolah maupun asrama sekolah tempat di mana anak menimba ilmu merupakan sebuah perilaku agresif yang dilakukan oleh sekelompok atau seseorang yang memiliki kekuasaaan terhadap siswi/siswa lain yang lemah dengan tujuan menyakiti korban  dengan menciptakan suasana yang tidak menyenangkan bagi korban, hal ini merupakan bentuk agresi yang paling umum di sekolah atau asrama sehingga menyebabkan korban merasa tertekan (smith dalam salsabila, 2010).

Bully memang dikecam dalam hal apapun, namun hal tersebut marak terjadi. Salah satu korban bullying disalah satu SMP, bernama dodo, berjenis kelamin laki-laku,  berusia 13 tahun, mengatakan dirinya pernah melakukan percobaan bunuh diri, namun niatnya di gagalkan oleh teman sekolahnya yang mengetahui tindakan nekat yang nyaris dodo lakukan.

Orang tua korban bullying kemudian melaporkan kepada pihak sekolah namun tidak ada tindakan sama sekali dari pihak sekolah dan hanya mengatakan bahwa itu merupakan kenakalan biasa.  Lain kasus lagi yang ditemui siswa SD inisial bernama ririn juga menjadi korban bullying di sekolah yang dilakukan oleh teman-temannya.

Efek dari bullying yang terus menerus dilakukan oleh sekelompok teman temannya yang berada disekolah menyebabkan Ririn ketakutan dan setiap kesekolah sering muntah-muntah, ketika orang tua korban menyampaikan ke pihak sekolah, pengampu sekolah mengatakan hal biasa terjadi disekolah.

Kesimpulan yang di dapat apakah guru atau pihak terkait yang menjadi pemong, pembina di yayasan ataupun pihak sekolah faham akan dampak panjang dan dampak pendek secara psikologis pada korban, saksi maupun pelaku bullying untuk kedepannya.

Pelaku bullying bisa jadi seseorang dengan status sosial yang lebih tinggi, lebih tua, lebih kuat, mahir secara verbal, bisa berjenis kelamin laki-laki maupun wanita dan sering berkemlompok. Pada saat melakukan melukai korban timbul perasaan senang di hati pelaku saat menyaksikan/melakukan tindakan melukai korban.

Tindakan bullying tidak hanya sekali tetapi dapat terjadi berkali-kali jika melihat korban tidak berdaya, hal tersebut dikarenakan bullying merukana tindak kekerasan sistematik yang digunakan untuk mengintimiadasi dan menjaga dominasi pada korban dan  bullying juga merupakan sebuah teror pada korban.

Bentuk bullying dapat dikelompokan menjadi 4 yaitu Bullying verbal yang paling sering dijumpai contohnya ejekan, celaan julukan, fitnah, teror, surat intimidasi, tuduhan-tuduhan, gosip dan sebainya. Bullying fisik dapat berupa tindakan melukai orang lain atau berupa tindakan kriminal seperti, memukul, menendang, menampar, mencakar, menggigit, meludahi, menghancurkan barang-barang miliki korban dan lain-lain.

Bullying relasional yaitu seperti pengucilan di sekolah oleh teman temannya. Bullying elektronik seperti dengan memberikan teror di SMS, FB, Tweeter, IG dan lain sebagainya.

Bullying memiliki dampak fisik dan psikologis, secara fisik Sullivan (2000) menjelaskan bahwa perilaku bullying diantaranya adalah dampak yang mengakibatkan sakit secara fisik seperti patah tulang, gigi rusak, gegar otak, luka dimata, luka lembam pada tubuh,  bahkan kerusakan otak permanen.

Akan tetapi dampak perlakuan bullying dalam psikologis remaja lebih sulit diungkap karena tidak kasat mata. Dampak perlakuan bullying dalam hal psikologis ini menimbulkan dampak yang amat besar dan merusak bagi kehidupan maupun sisi akademik remaja yang menjadi korbannya.

Perilaku bullying yang dirasakan oleh korban akan memberikan dampak yang tidak baik bagi perkembangan korban. Ketika siswa/siswi menjadi korban bullying mengakui bahwa mereka sangat terganggu dengan perlakuan bullying. Dampak psikologis bullying menurut Rigby (2007) adalah harga diri, dikucilkan, ketidakhadiran, reaksi Emosional, efek domino, dampak dalam pendidikan, depresi dan bunuh diri.

Dampak bullying pada pelaku, akan cenderung mengalami masalah psikologi kedepannya, dan menjadi pribadi yang kurang bahagia, tidak stabil secara emosi dan menjadi pribadi yang kurang empati pada orang lain. Dalam hubungan sosial dengan orang lain juga menglami kesulitan.

Dampak pada saksi bullying cenderung mengalami kecemasan, depresi, merasa bersalah dan cenderung takut berteman terhadap korban dan takut melaporkan peristiwa teresebut karena takut menjadi korban juga. Sedangkan dampak masa panjangnya cenderung menggunakan obat-obatan dan alkohol.

Karena itu sebagai masyarakat umum, tenaga pendidik, pejabat hendaknya memiliki empati dan perhatian terhadap perilaku bullying karena dapat terjadi pada keluarga masing-masing tanpa kita sadari.

 

Penulis Yulfa Islaini, S.Psi, M.Psi, Psikolog

12 Februari 2024

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *