Jeumpa Media | Kutacane- Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) mengatakan bahwa terdapat 52 napi yang kabur. Mashudi selaku Dirjen PAS Kementerian Imipas, juga menyatakan jika sebanyak 21 napi kini telah ditangkap.
“Update terakhir dari 52 orang warga binaan yang melarikan diri, sudah 21 orang yang tertangkap dan menyerahkan diri,” ujar Mashudi dalam keterangan tertulis, Selasa (11/3/2025).
“Bahkan, ada keluarganya langsung yang mengantarkan mereka kembalil ke Lapas. Tinggal 31 orang yang diharapkan segera kembali,” terangnya.
Mashudi juga sempat melakukan kunjungan ke Lapas Kelas IIB Kutacane, ia juga menyebutkan bahwa Lapas Kutacane ternyata melebihi kapasitas yang seharusnya atau overcapacity.
Bahkan kelebihan kapasitas itu mencapai hingga 300% dari total daya tampung narapidana (napi). Mashudi pun mengaku turut prihatin akan kondisi tersebut.
“Saya sangat prihatin ada warga binaan yang harus tidur di luar kamar hunian, karena kamar hunian yang ada tidak mencukupi,” katanya.
“Kapasitas yang hanya untuk 100 orang, harus terisi 386 orang, lebih dari 300%. Sedangkan kekuatan petugas penjagaannya 24 orang, 7 orang per shift,” tambah dia.
Berada kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara akhirnya turun tangan dan akan menghibahkan tanah seluas 4,1 hektare untuk dapat direlokasi kepada Lapas Kutacane agar menjadi lebih layak.
Napi Minta Jatah Makan Sama dengan Tahanan KPK
Di sisi lain, Agus Andrianto selaku Menteri Imipas juga menyebutkan bahwa motif para napi kabur akibat meminta jatah makanan porsi yang sama denhan para narapidana dari KPK.
Agus mengungkapkan bahwa, anggaran makan di Lapas Kutacane berbeda-beda. Ada yang mulai dari Rp 18.000 hingga Rp 22.000 per harinya.
“Nah, ini lah yang mau dicek apakah karena perilaku petugas. Kalau yang sementara perkembangan karena makan nih, minta jatah makannya sama dengan yang dari KPK,” pungkas Agus.
“Memang kan memang ada beberapa klasifikasi di sini, ada yang Rp 18.000 per hari, ada yang Rp 20.000, ada yang Rp 22.000,” tuturnya.
Meski demikian, Agus menegaskan, pihaknya akan melakukan pengecekan lebih lanjut guna memastikan apakah benar penyebabnya itu berasal dari ketidakpuasan para napi karena penyediaan makanan di Lapas Kutacane.
“Ya, kalau minta seperti itu bukan kapasitas saya lah ya, tapi yang pasti kita akan lakukan pengecekan apa yang menjadi motif sebenarnya daripada kejadian kemarin,” ungkapnya. (Ra)
