Jeumpa Media | Banda Aceh – Kepala Pelatih Cabang Olahraga Woodball Jawa Barat Rubianto Akmal mengeluhkan Kualitas makanan yang disajikan kepada para atlet di PON 2024, Kamis malam (19/9/2024).
Dalam keterangannya kepada media, Rubianto menyampaikan bahwa makanan yang disediakan pihak penyelenggara jauh dari standar gizi yg diperlukan untuk menunjang performa para atlet.
“Berbicara tentang nutrisi gizi, ketika para atlet bermain di lapangan, kalori dan protein harus lebih tinggi. Tapi yang kami dapatkan, porsinya tidak sebanding dengan harganya dan tidak sesuai dengan kebutuhan atlet,” ujar Rubianto.
Selain itu, Rubianto menekankan bahwa kebutuhan gizi atlet berbeda dengan orang biasa. Saat bertanding, atlet mengerahkan seluruh tenaga, pikiran, dan fisik mereka, harusnya makanan yang disajikan memiliki komposisi gizi yang seimbang, khususnya kalori dan protein.
“Porsi atlet seharusnya tidak disamakan dengan makanan sehari-hari. Pada saat bertanding Atlet memerlukan makanan yang lebih banyak protein untuk memulihkan tenaga dan meningkatkan performa mereka, bukan hanya karbohidrat,” tambahnya.
Ia juga mengkritisi menu yang disediakan oleh PB PON, di mana sebagian besar terdiri dari nasi dengan porsi besar, satu potong ayam campuran, dan sayur yang dinilai kurang memadai. Menurut Rubianto, menu tersebut justru memiliki terlalu banyak karbohidrat dan tidak cukup protein.
“Kalau lebih banyak nasi, jelas lebih banyak karbohidrat. Sedangkan atlet butuh protein yang banyak, bukan karbohidrat,” tegasnya.
Karena kurangnya standar gizi dalam makanan yang disediakan oleh PB PON, tim pelatih Woodball Jawa Barat mengambil langkah tegas. Rubianto mengungkapkan bahwa mereka terpaksa mengesampingkan makanan yang disediakan oleh PB PON dan menggantinya dengan makanan yang dibeli dari luar.
“Kami akhirnya membeli makanan dari luar untuk memastikan nutrisi gizi para atlet Woodball Jawa Barat terpenuhi. Biaya yang kami keluarkan berkisar antara Rp900 ribu hingga Rp2 juta untuk 6 atlet dan 3 ofisial. Kami lebih banyak membeli ikan dan sayur sebagai sumber protein. Makanan dari PB PON yang seharusnya untuk atlet kami berikan kepada para sopir, karena makanan yang mereka terima bahkan lebih buruk dari yang diterima atlet,” ungkap Rubianto.
Tidak hanya dari pihak pelatih, kritik terhadap kualitas makanan juga disampaikan oleh atlet sendiri. Ahmad Yopi, salah satu atlet dari kontingen Jawa Barat. Ahmad mengaku bahwa makanan yang disediakan tidak memenuhi standar nutrisi yang seharusnya diberikan kepada atlet.
“Makanannya kurang memuaskan, tidak memiliki standar gizi yang memadai. Seharusnya hal ini lebih diperhatikan, karena makanan sangat berpengaruh pada performa kami di lapangan,”tutup Ahmad. (Mis)
