Pemulihan Layanan Kesehatan Pascabencana Aceh Capai 95 Persen, Ratusan Nakes Dikerahkan

Jeumpa Media | Banda Aceh – Pemerintah Aceh melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mempercepat pemulihan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi di 18 kabupaten/kota. Sebagian besar fasilitas kesehatan telah kembali beroperasi normal, disertai distribusi obat-obatan dan pengerahan ratusan tenaga medis ke wilayah terdampak per Kamis (18/12/2025).

Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, mengatakan berdasarkan validasi data terbaru pada sub-klaster pelayanan kesehatan, tercatat 65 rumah sakit dan 309 puskesmas masuk dalam pantauan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62 rumah sakit dan 279 puskesmas telah beroperasi aktif secara penuh.

“Pemulihan fungsi layanan kesehatan menjadi prioritas utama agar para penyintas bencana tetap mendapatkan penanganan medis yang memadai,” ujar M. Nasir, Kamis (18/12/2025).

Selain aktivasi fasilitas kesehatan, Pemerintah Aceh juga telah menyelesaikan distribusi obat-obatan serta Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi kelompok rentan, khususnya ibu hamil dan balita, di 13 kabupaten/kota. Wilayah tersebut meliputi Pidie Jaya, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Gayo Lues, Langsa, Lhokseumawe, Aceh Tenggara, Pidie, dan Aceh Besar.

Untuk memperkuat logistik medis, Aceh juga menerima bantuan internasional berupa 80 koli obat-obatan dari Malaysia yang telah didistribusikan secara merata ke seluruh kabupaten/kota terdampak.

Di sisi pelayanan lapangan, Pemerintah Aceh memobilisasi 539 tenaga kesehatan yang tergabung dalam 55 tim dan disebar ke sembilan kabupaten/kota terdampak. Selain itu, sebanyak 33 unit Emergency Medical Team (EMT) terpadu diterjunkan untuk menangani kasus kedaruratan medis di wilayah paling terdampak, seperti Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Tenggara.

Penguatan layanan kesehatan juga didukung oleh 573 tenaga medis tambahan yang tergabung dalam 58 tim relawan lintas sektor. Tim ini merupakan hasil sinergi Kementerian Kesehatan, organisasi profesi dokter dan apoteker, perguruan tinggi, rumah sakit, serta lembaga swadaya masyarakat.

Para relawan medis tersebut saat ini bertugas di fasilitas kesehatan dan posko-posko layanan darurat di lokasi pengungsian untuk memastikan pelayanan kesehatan, termasuk pemantauan kondisi fisik dan mental penyintas, berjalan optimal.

“Kehadiran tim relawan kesehatan ini sangat krusial, terutama untuk menjangkau daerah-daerah terisolir seperti Aceh Tengah dan Gayo Lues agar masyarakat tetap mendapatkan akses pengobatan,” kata M. Nasir.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *