Jeumpa Media | Banda Aceh – PKBI Aceh dan Universitas Negeri Semarang (UNNES) melakukan kerjasama penelitian tentang Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) sebagai upaya pemenuhan layanan kesehatan reproduksi pada situasi bencana.
Selain provinsi Aceh, penelitian ini juga dilakukan secara bersamaan di Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Sementara itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat sudah sejauh apa upaya penilaian kesiapsiagaan pemenuhan layanan kesehatan reproduksi pada situasi bencana dan melihat data gambaran MRA di provinsi Aceh.
Untuk perolehan data, PKBI Aceh melakukan 2 kali FGD. FGD pertama dilakukan secara daring yang dilaksanakan pada 17 Oktober 2024 dan FGD 2 dilaksanakan pada tanggal 24 Oktober 2024 di The Pade Hotel.
Narasumber dalam pengisian data kuesioner adalah perwakilan Dinas Kesehatan, DP3A, BKKBN, BPBA, FPRB, IDI Aceh, IBI Aceh, klinik Putroe Phang PKBI Aceh, PMI Aceh, PPDI, PW Aisyiyah, LKNU, MDMC Muhamaddiyah, HAKKA, LAPA Aceh, Stikes Muhamaddiyah, dan Fakultas Kesehatan Masyarakat UNMUHA.
“Data yang dimaksud berisikan kesiapan dalam memberikan layanan PPAM yang terdiri dari mencegah kekerasan seksual dan menanggapi kebutuhan para penyintas, mencegah penularan dan mengurangi kesakitan dan kematian akibat HIV dan IMS lainnya, mencegah meningkatnya kesakitan dan kematian maternal dan neonatal, mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, layanan minimum kesehatan reproduksi remaja, layanan minimum kesehatan balita, layanan minimum kesehatan lansia, dan perawatan aborsi yang aman sesuai dengan hukum yang berlaku,” ujar Wanti Maulidar, Direktur Eksekutif Daerah PKBI Aceh.
Di akhir sesi pertemuan, peserta mengharapkan adanya tindak lanjut terkait dengan kebijakan pemenuhan layanan kesehatan reproduksi pada situasi bencana, baik itu sebelum bencana, ketika bencana, dan pasca bencana. (ril)
