Jeumpa.com – Rakan Jeumpa, Tau gak sih bahwa Aceh juga memiliki pahlawan perempuan yang bernama Pocut Baren.
Di Kota Banda Aceh sendiri, untuk menghargai perjuangan kegigihannya, Pemerintah Aceh menjadikan namanya sebagai nama sebuah jalan, yaitu Jalan Pocut Baren yang berada di sekitar jalan yang menghubungkan Jambotape dan Peunayong.
Mau tahu? Yuk simak rangkuman berikut ini!
Pocut Baren adalah seorang ulama, pahlawan wanita dari Aceh dan juga seorang uleebalang di kawasan Gome. Ia lahir pada tahun 1880 di Kabupaten Aceh Barat.
Diketahui bahwa Pocut Baren telah mulai berjuang melawan Belanda sejak usia muda. Tercatat bahwa ia telah ikut bergerilya dari tahun 1903-1910 dengan dibantu pengikut setianya yang berjumlah sekitar 30 orang pria.
Ia menjadi panglima perang menggantikan suaminya yang meninggal dalam perang. Kemana-mana, Pocut Baren selalu memakai peudeung tajam (pedang tajam), sejenis kelewang bengkok.
Dikutip dari SindoNews, seorang penulis asal Belanda bernama Doup mengabadikan kisah Pocut Baren yang gagah berani.
Menurut cerita penduduk, Pocut Baren ikut berperang bersama Cut Nyak Dhien. Setelah Cut Nyak Dhien ditangkap pada tanggal 4 November 1905, Pocut kemudian memimpin pasukan sendiri.
Oleh karena itu, pada masa itu wilayah Aceh memiliki dua pejuang wanita yang memimpin pasukannya melawan Belanda.
Namun, serangan gencar Belanda membuat Pocut Baren terdesak ke pedalaman hutan dan memilih bermarkas di sebuah gua di Gunong Mancang, Belanda pun kesulitan melacak gua ini.
Hingga pada suatu hari, keberadaan gua diketahui oleh Belanda. Akan tetapi, tentara Belanda kesulitan mencapai lokasi gua karena anak buah Pocut Baren menggulingkan ratusan batu hingga menyebabkan banyak tentara Belanda yang tewas.
Tidak kehilangan akal, Belanda kemudian mengalirkan 1200 kaleng minyak ke arah gua lalu membakarnya. Hingga menyebabkan banyak korban berjatuhan.
Pocut Baren sendiri terkena peluru di kakinya dan perlawanannya terpaksa berhenti. Ia ditahan di Kutaraja, tapi anak buahnya tetap melakukan perlawanan.
Sayangnya, kakinya yang tertembak harus diamputasi karena membusuk akibat tidak mendapatkan perawatan yang cukup.
Setelah sembuh, Belanda mengembalikan Pocut Baren ke kampung halamannya di Tungkop sebagai uleebalang karena yakin ia tidak akan melakukan perlawanan lagi.
Akan tetapi, meski tidak dapat berperang lagi, Pocut Baren terus menyemangati anak buahnya melalui syair dan pantun.
Pocut Baren wafat dan dimakamkan di Tungkop, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat. (Tsy)
