Refleksi 20 Th : Museum Tsunami Hadir Dokumentasi Sejarah, Semoga Menyusul Museum Damai Aceh

Media Jeumpa | Banda Aceh – 20 tahun telah berlalu, sejak gelombang dahsyat yang disebut Tsunami meluluh lantakkan Banda Aceh dan sekitarnya. Gempa dahsyat yang mencapai 9,1 skala richter itu meliputi sebagian besar pesisir Aceh juga beberapa negara sekitar Samudera Hindia.

Menurut Perserikatan Bangsa-bangsa , musikbah tersebut mencapai sekitar 230.000 orang di 14 negara.

Sementara data Koalisi Evaluasi Tsunami menunjukkan sedikitnya 275.000 orang tewas. Jumlah itu belum termasuk korban yang tercatat hilang.

26 Desember saat itu, masyarakat Aceh tentu mengira bahwa surutnya gelombang laut adalah pertanda bahaya. Diawali gempa yang cukup kencang, di hari minggu dimana sebagian besar warga Banda Aceh berolahraga, berkerumum di lokasi wisata.

Pertemuan gelombang dari pantai yang satu dengan pantai berikutnya tak terelak memanggil jalur pengungsi. Mengingat wilayah pesisir Banda Aceh dan Aceh Besar memang begitu dekat dengan laut.

Lalu gelombang yang menurut saksi mata hampir mencapai pohon kelapa itu pun menjadi momen yang bagi korban bagaikan akhir dunia.

Mayatpun bergelimpangan diseluruh sudut jalan kota. Tak ada yang mengira bahwa kini kondisi kota banda aceh telah bersih, rapi dan kembali indah. Jika dibandingkan saat peristiwa kelam itu.

Dalam proses melakukan pembenahan terhadap kota yang telah porak poranda akibat tsunami, maka lahirlah perdamaian perdamaian Aceh MoU Helsinki pasa 15 Agustus 2005. Menyadari bahwa meski konflik Aceh telah puluhan tahun terjadi, namun musibah Tsunami yang merupakan kekuasaan ilahi, hanya beberapa menit saja mendatangkan ratusan ribu korban dan menghancurkan segala bangunan sebesar dan sekokoh apapun yang terlihat.

Keajaibannya beberapa mesjid bertahan, sebutlah Mesjid raya Baiturrahman, mesjid Baiturrahim di Ule lheu dan mesjid Rahmatullah Lampuuk.

Rehabilitasi rekon pasca tsunami dipandang berhasil, paling kini tidak banyak korban selamat yang sempat trauma namun terpulihkan dan kembali semangat menjalani kehidupan. Sebutlah Delisa, gadis kecil yang kisahnya sempat viral dan dijadikan sebuah film. Ia kehilangan ibu, saudara dan sebuah kakinya. Kini ia sukses menjalani karir sebagai pegawai Bank dan menjadi motivator.

Namun ada yang tak boleh terlupa dari Aceh. Bahwa tsunami cukup dahsyat, begitu pula konflik bersenjata di Aceh. Benar bahwa kini Aceh telah damai, namun proses mengalirkan hak korban belum menjadi perhatian khusus saat ini. Korban tsunami bertumpuk di beberapa lokasi saja di Aceh. Namun korban konflik hampir di 17 kab/kota se Aceh. Wilayah konflik juga menyebabkan perbukitan dan pedalaman. Masih banyak trauma dan tidak berdaya secara ekonomi.

Selain menyediakan hak, tuntutan juga untuk membangun museum Damai Aceh, menjadi bagian tersendiri yang terfokus pada pembelajaran konflik Aceh. Bukan untuk membuka luka namun untuk pembelajaran sejarah agar tidak terulang serupa. Seperti museum Tsunami yang telah berdiri megah, semoga menyusul museum damai Aceh.

Kini, meski bencana maha dahsyat telah 20 tahun berlalu. Ingatan tentu tak punah. Ada yang kehilangan semua kerabat dalam satu hari saja. Korban yang ketika selamat riuh bersujud syukur, bahkan bunyi Allahu Akbar menggema pertanda hanya Allah saja yang menjadi penyelamat paling nyata. Bahkan konon korban selamat yang non muslim pun ikut menyebut Allahuakbar saat ikut menyelamatkan diri ke dalam mesjid.

Pembelajaran yang berarti tentang mitigasi bencana serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan tentu saja tidak boleh terlupa. Al Fatihah buat para Syuhada. (And) 

Penulis Sharli Maidelina SPd CPM

Komisioner KKR Aceh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *