Refleksi Milad 58 Th KOHATI HMI, Kuatkan Khittah, Tepis Dinamika

Jeumpa Media | 58 Tahun yang lalu, sebuah kongres ke 8 di Solo resmi melahirkan Korp HMI Wati disingkat KOHATI. Bukan bagian terpisah dari HMI, tapi sengaja dilahirkan sebagai akselerasi atau percepatan tujuan HMI itu sendiri. KOHATI mengemban tugas yang sama mulianya yaitu membina Muslimah berkualitas insan cita. Semua anggota KOHATI pastilah anggota HMI, walau tidak semua anggota HMI disebut KOHATI.

KOHATI diperkenalkan sebagai badan khusus yang mengemban tanggung jawab spesifik. Keberadaannya secara eksternal, sebagai organisasi Perempuan. Namun di internal ia merupakan bagian dari tubuh HMI yang bersifat semi otonom. Tak ingin Kohati menjadi tubuh yang terpisah dari HMI, semi otonom inipun masuk di AD ART HMI dan Pedoman Dasar KOHATI (PDK). Dalam struktur kepengurusan dimana Ketua , Sekretaris, Bendahara, Kabid internal dan Eksternal  yang terpilih pada Musyawarah KOHATI (MUSKOH) ex officio menjadi Kabid Pemberdayaan Perempuan,  wasekum dan wabendum serta departemen terkait di struktur penguru HMI.

Dinamika Perselisihan Internal

Sejak aktif menjadi pengurus KOHATI serta pernah menjabat Ketum KOHATI HMI Cabang Langsa tahun 2007, ada beberapa dinamika yang terpelihara bahkan hingga saat ini. Yaitu perselisihan dengan Ketum HMI. Kuatnya motivasi dalam pribadi dan karakteristik Ketum KOHATI acapkali dianggap sebagai saingan oleh Ketum HMI. KOHATI yang harusnya mengemban tugas mendobrak bentuk-bentuk ketidakadilan gender seperti salah satunya subordinasi atau anggapan bahwa Perempuan tidak penting . Sayangnya, HMI wati sendiri menghadapi ketidakadilan tersebut. Jika tak kuat, maka akan patah semangat dan hilang.

Dualisme kepemimpinan yang terjadi di tubuh HMI dan juga KOHATI hingga saat ini, seperti warisan yang tanpa disadari sebenarnya bukan sebuah kebanggaan. Bayangkan di masa jabatan yang hanya setahun yaitu 12 bulan, lalu sebegitu kuatnya ingin meraih jabatan Ketum, di organisasi non profit sungguh sebuah ironi. Tak ada gaji di HMI. Tak ada honor buat yang menjabat Ketua Umum. Tapi sebegitu besar pengaruh generasi dalam merebut kuasa yang hanya setahun saja. Perpecahan dipertontonkan, perang medsos dan saling sindir yang juga melibatkan para alumni menjadi terbiasa.

Jawaban Alm Kanda Agus Salim Sitompul

Sejarawan HMI , Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul menghembuskan nafas terakhir 18 Mei 2013 dalam perawatan di Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta. Dari beliau saya pernah bertanya mengapa terjadi perebutan kekuasaan di HMI begitu besar. Bahkan hanya karena sebuah jabatan Ketua Umum. Dimana saya sendiri harus merasakan ketakutan menjelang pemilihan. Terancam diculik, harus bersembunyi dibawah kolong tempat tidur dalam kamar agar tidak terdeteksi tim ses calon. Lalu ketika suara saya tidak berpihak kepada yang kalah, ia menjadi sangat marah. Dijadikan musuh Bersama, dirusak nama dan citra buruk. Bahkan meski kisah itu telah berlalu 19 tahun lamanya, disetiap reuni yang berkumpul para alumni, nada kebencian masih harus saya terima. Mengapa?

Dengan bersahaja, saat itu Kanda Agus Salim menjawab, semua dimulai sejak 1966. Masa PKI. HMI yang sebelumnya lebih focus pada kegiatan kajian-kajian keilmuan, berubah menjadi harus masuk dalam dunia politik. Sebagai tuntutan jaman saat itu, yang awalnya bertujuan untuk mengatasi Gerakan paham komunisme namun kelamaan hal itu semakin terpelihara. Ditambah konflik asas tunggal di masa orde baru, HMI berpecah menjadi dua yang disebut MPO dan Dipo. Fenomena itu tak dapat dibendung lagi karena seakan telah menyatu sebagai khittah. Benarkah?!

KOHATI yang tersakiti

“Kenapa ya kak, kejam kali mereka” curhat pilu seorang HMI Wati kepada saya. “Saya gak mau lagi aktif di HMI, sakit kali hati” timpalnya. Ia salah satu Ketum KOHATI yang telah terpilih di salah satu cabang yang ada di Aceh, telah di SK kan oleh PB HMI. Namun karena tak selaras dengan Ketum HMI cabangnya, maka ia tidak dilantik. Lalu sedih dan tidak mau aktif lagi. Meski tidak berkapasitas dalam menghakimi, tapi yang pasti curhatan serupa pasti juga terjadi di beberapa daerah. Bahkan sejak saya aktif sebagai kader hingga menjadi alumni masih terdengar.  Jika ia menjabat, maka tentu sebentar saja selesai. Tapi rasa sedih dan sakitnya tidak dilantik tentu tertanam bertahun-tahun sulit dilupakan.

Kuatkan Khittah Perjuangan

Seyogianya, KOHATI ada bukan pesaing HMI tapi pelengkap dan mempercepat tujuan HMI. Maju KOHATI maka maju HMI. NDP Kohati  juga sama, tak berbeda. Iman, Ilmu dan Amal sebagai pondasi awal dalam melakukan pergerakan. KOHATI harus dimaknai sebagai wadah strategis bagi Mahasiswi Agent of Change, Muslimah pembaharu yang bertanggung jawab atas terwujudnya Masyarakat adil dan Makmur yang diridhoi Allah SWT.

Apabila KOHATI disibukkan dengan persaingan internal, maka ia akan lupa tugas mulianya dalam pengabdian ke Masyarakat. Bagaimana ketidak adilan masih dialami Perempuan, daruratnya kekerasan seksual menimpa anak dan Perempuan serta diskriminasi lainnya sebagai imbas budaya patriarki. Maka 58 tahun refleksi Milad KOHATI. Semoga dapat menjadi momentum kesadaran untuk memperkuat khittah yang tetap abadi dalam pedoman untuk  dihidupkan menjadi ruh perjuangan. Tepis dinamika negatif yang hanya melemahkan. Jadilah kuat, sehingga ketika dinamika internal ada namun tak terlena dan melupa khittah perjuangan KOHATI itu sendiri. Bahagia HMI,  Jayalah KOHATI.(and)

Penulis :

Mantan Ketum Kohati HMI cabang Langsa 2007 ,

Mantan Kabid Intern KOHATI Badko Aceh dan Pengurus FORHATI Aceh.

Komsioner Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *