Jeumpa Media | Takengon – Di tengah kegelapan malam dan suasana darurat akibat banjir bandang yang melanda Kecamatan Linge pada malam Rabu (26/11/2025).
Sebuah surat sederhana namun penuh harapan ditulis pada malam Sabtu tanggal 27/11/2025 oleh seorang warga yang terdampak. Surat tersebut dititipkan kepada Asmara Piana untuk disampaikan kepada keluarga di Takengon, sebagai bentuk komunikasi di saat akses dan jaringan terputus total.
Surat itu ditulis di depan obor yang menjadi satu-satunya penerang malam itu. Isinya menggambarkan situasi pilu yang dialami warga Desa Pertik, Delung Sekinel, Zamat, dan Linge.
Isi surat dengan berbahasa Gayo yang artinya “Wen kami sudah mengungsi di Desa Linge, sebagian rumah saudara kita sudah habis terkena banjir, sebagian saudara kita mengungsi di Desa Delung Sekinel tempatnya di sekolah SMA. Alhamdulillah kami semua aman dan sehat, tapi rumah di Desa Pertik sudah habis rata karena banjir,” tulis Aman Ija, mantan Geucik Desa Pertik.
Selain menggambarkan keadaan para pengungsi, Aman Ija juga menyampaikan amanah khusus kepada saudaranya, Sahidin, terkait kebutuhan anaknya yang tengah bersekolah di pesantren. Ia menulis dalam bahasa Gayo, yang dijelaskan maknanya: “Tolong kirimkan uang saku anak saya , Iza, sebesar Rp300.000 dan kirimkan kepada ustazahnya agar bisa diberikan langsung kepadanya.”
Ia juga meminta agar Sahidin bersiap menjemput sang anak jika terjadi sesuatu di tempat ia bersekolah. Namun, ia menegaskan agar kondisi musibah yang menimpa keluarga tidak diberitahukan kepada anaknya, agar ia tetap fokus menuntut ilmu di pesantren.
Dalam surat itu, Aman Ija turut menyampaikan bahwa jika kondisi telah aman dan jalur sudah terbuka, ia berencana keluar menuju Takengon. Ia juga memohon bantuan karena warga dari Desa Pertik, Delung Sekinel, Zamat, hingga Linge mengalami kekurangan beras. Beberapa keluarga bahkan dikabarkan tidak makan.
Surat yang ditulis di bawah cahaya obor itu kini menjadi simbol ketabahan warga dalam menghadapi bencana, sekaligus bukti bahwa dalam keadaan tersulit sekalipun, komunikasi dan harapan tetap dijaga. Hingga kini, para pengungsi masih menantikan bantuan logistik dan bantuan.(*)
