Jeumpa Media | Banda Aceh – Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal tak menampik adanya dugaan harga tarif dalam mengangkut bantuan logistic dari penyeberangan Kutablang Bireuen mencapai jutaan rupiah. Namun, ia menjelaskan bahwa hal tersebut diluar sepengetahuan pihaknya dan belum diketahui oknum atau pengusaha kapal tersebut, hal ini disampaikan pada konferensi pers di lantai 1 Posko Media Centre Pemerintah Aceh, (12/12/2025).
Menurut Teuku Faisal, pihaknya telah mengerahkan 18 personil di jembatan Kutablang, serta telah membagi 180 lifejacket Bersama BPBA untuk kapal-kapal masyarakat yang mengoperasikan penyeberangan. Terkait calo yang diduga mematok harga fantastis, bahkan mencapai jutaan, menurut Kadis pihaknya sampai saat ini belum menemukan pelakunya,
“ Kita juga menghimbau untuk tidak mengenakan tarif di luar kewajaran. Kalau dicari orangnya ngak ketemu, tapi ada. Kita juga udah menanyakan ke beberapa pengusaha kapal, tapi semuanya mengaku tidak melakukan percaloan itu. Mungkin ada yang mengambil momentum. Karena untuk naik ke kapal itu tidak di satu titik.
Ada beberapa tidak membawa orang saja juga barang, kalau barang ini terjadi negosiasi karena dia harus mengangkut dari truck bawa ke Kapal, itu mungkin ada negosiasi tapi diluar kemampuan kami untuk memantaunya. Tapi selama masa penyeberangan dari jam 7 sampai jam 18.00 kita ada disana.
Saya menugaskan tim disana, dari pantauan kita tidak menemukan siapa” ujar Faisal.
Faisal juga menambahkan terkait dugaan tersebut, pihaknya telah mendorong peran aktif Dishub setempat demi meminimalisir kejadian yang tidak menyenangkan tersebut.
Sebelumnya para relawan mengeluh terkait tarif angkutan bantuan yang fantastis.
Seorang relawan, Surya Darma,22, menjelaskan bahwa dirinya membawa bantuan berupa mie instan, beras, serta pakaian untuk para pengungsi di Geurugok Bireuen dan Aceh Utara.
Ia menempuh perjalanan dari Banda Aceh menggunakan mobil pick-up dan baru mengetahui besarnya biaya saat tiba di Kuta Blang, lokasi di mana jembatan utama telah roboh sehingga penyeberangan hanya dapat dilakukan dengan boat.
Surya mengungkapkan bahwa relawan tidak diizinkan mengangkat barang sendiri ke boat dan wajib menggunakan jasa harlan.
“Biaya harlan di sisi kanan jembatan Rp600 ribu, ongkos boat Rp400 ribu, dan harlan sisi kiri Rp300 ribu. Totalnya Rp1,4 juta. Padahal jaraknya hanya sekitar 150 meter,” keluhnya.
Keluhan serupa disampaikan relawan lainnya dalam rapat bersama pemerintah Aceh yang dipimpin Sekda Aceh, pada Selasa (9/12/2025)
Baca Juga : Sekda Aceh Satukan LSM dan Relawan untuk Percepat Pemulihan Pasca Bencana – Jeumpa Media
Para relawan berharap agar kejadian serupa tidak lagi terulang ditengah kondisi bencana.* (and)
