Nasib Keluarga Memprihatinkan, Berkali-kali Jadi Korban Pencurian Ayam, Kini Suami dan Anak Ditahan

Jeumpa Media| Bali- Kasus pengeroyokan yang menewaskan KD, pria yang diduga mencuri ayam di Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, tak hanya meninggalkan luka bagi keluarga korban. Di sisi lain, keluarga para tersangka yang kini mendekam di balik jeruji juga harus menghadapi kenyataan pahit setelah kehilangan sosok pencari nafkah.

Salah satu yang merasakan dampak paling berat adalah Ni Komang Narti. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai petani sayur itu harus menerima kenyataan suami dan anaknya ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Polres Tabanan. Keduanya termasuk lima orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Dengan suara lirih, Narti mengaku hidup keluarganya kini berubah drastis. Selain harus memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia juga masih dibebani utang yang digunakan untuk membiayai pesta pernikahan anaknya. Kondisi itu semakin berat karena dua orang yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga kini harus menjalani proses hukum.

Meski kesehatannya belum pulih akibat pernah mengalami saraf terjepit hingga harus berjalan menggunakan tongkat, Narti mengaku tetap memaksakan diri turun ke kebun. Ia kini mengandalkan hasil bertani dan berjualan sayur untuk menghidupi keluarga, termasuk menantu dan dua cucunya yang masih kecil.

“Saya berharap suami dan anak saya cepat pulang karena mereka tulang punggung keluarga,” ujarnya.

Menurut Narti, keluarganya selama ini juga menggantungkan penghasilan dari beternak ayam. Hasil penjualan ayam dinilai menjadi sumber pemasukan penting, bahkan digunakan untuk mencicil utang keluarga.

Ia menjelaskan, harga ayam yang dipelihara bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung usia dan kualitasnya.

“Ayam yang masih kecil biasanya laku sekitar Rp500 ribu. Kalau yang sudah dipelihara lama bisa dijual sampai Rp5 juta. Dari situlah kami memenuhi kebutuhan dan membayar utang,” tuturnya.

Namun, sebelum insiden yang berujung maut itu terjadi, keluarga mereka mengaku lebih dulu menjadi korban kehilangan ayam. Narti menyebut sedikitnya 16 ekor ayam peliharaan suaminya raib sekitar dua bulan sebelumnya.

“Ada 16 ekor ayam milik suami saya yang hilang,” katanya.

Ia juga mengklaim bahwa saat dugaan pencurian ayam terungkap, KD sempat membawa senjata tajam dan diduga mengancam suami serta anaknya. Pengakuan tersebut membuat keluarganya merasa ketakutan hingga mengubah kebiasaan mereka.

“Biasanya saya tidur di pondok dekat kandang ayam. Setelah kejadian itu saya takut dan memilih menginap di desa,” ungkap Narti.

Kini, harapan terbesar perempuan itu hanyalah melihat suami dan anaknya bisa kembali berkumpul dengan keluarga. Terlebih, dua cucunya masih balita dan membutuhkan perhatian orang tua mereka.

Hal senada disampaikan Yuni Astini, menantu Narti. Ia mengatakan suami dan mertuanya kini sama-sama menjalani penahanan di Polres Tabanan setelah ditetapkan sebagai tersangka.

Menurut Astini, peristiwa bermula ketika iparnya yang tinggal di sebuah pondok di ujung desa memergoki KD yang diduga sedang mengambil ayam peliharaan keluarga. Saat dipergoki, KD disebut membawa senjata tajam dan diduga sempat melontarkan ancaman akan membunuh pemilik ayam.

Keluarga para tersangka menilai peristiwa itu tidak bisa dilepaskan dari keresahan warga yang sudah lama dihantui maraknya kasus kehilangan ayam aduan di wilayah tersebut. Mereka menduga pelaku selama ini menyasar ayam-ayam bernilai tinggi milik warga, bahkan jumlah ayam yang hilang disebut mencapai belasan ekor.

Meski demikian, proses hukum atas kasus pengeroyokan yang menyebabkan tewasnya KD tetap berjalan. Polisi telah menetapkan lima orang sebagai tersangka dan masih melanjutkan penanganan perkara sesuai ketentuan hukum yang berlaku.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *