Jeumpa Media | Banda Aceh— Lingkungan lembaga pemasyarakatan tidak hanya menjadi tempat menjalani masa pidana. Di Lapas Kelas IIA Banda Aceh, keberadaan warga binaan juga diarahkan untuk menjadi bagian dari proses belajar, mengembangkan keterampilan, dan mempersiapkan diri sebelum kembali ke tengah masyarakat.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Taman Satwa yang baru dihadirkan di lingkungan Lapas Kelas IIA Banda Aceh, Sabtu (29/8/2026).
Taman tersebut tidak hanya ditujukan untuk mempercantik lingkungan Lapas. Di dalamnya terdapat berbagai jenis satwa seperti kelinci, burung, ayam, bebek entok, hingga kura-kura yang dirawat dan dilestarikan secara berkelanjutan.
Lokasinya yang berada tidak jauh dari area kunjungan membuat Taman Satwa juga dapat dinikmati oleh masyarakat yang datang menemui warga binaan.
Bagi pengunjung, keberadaan taman ini dapat menjadi ruang edukasi sederhana mengenai pentingnya merawat dan menjaga kelestarian satwa. Sementara bagi warga binaan, aktivitas di dalamnya dimanfaatkan sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian.
Warga binaan dilibatkan dalam berbagai kegiatan, mulai dari memberikan pakan, merawat satwa, membersihkan kandang hingga menjaga lingkungan taman.

Dari aktivitas tersebut, mereka tidak hanya belajar mengenai pemeliharaan hewan, tetapi juga dilatih membangun kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian, dan keterampilan praktis yang diharapkan dapat berguna setelah menyelesaikan masa pembinaan.
Konsep tersebut sekaligus menjadikan Taman Satwa sebagai salah satu ruang pembinaan yang berorientasi pada reintegrasi sosial.
Keterampilan yang diperoleh selama mengelola dan memelihara satwa diharapkan dapat dikembangkan secara mandiri oleh warga binaan ketika kembali ke keluarga dan masyarakat.
Dengan demikian, pembinaan tidak berhenti pada aktivitas di dalam Lapas, tetapi diarahkan agar warga binaan memiliki bekal positif yang dapat diterapkan setelah kembali menjalani kehidupan di luar.
Di sisi lain, interaksi dengan satwa juga menjadi sarana untuk menanamkan kepedulian terhadap makhluk hidup dan lingkungan. Warga binaan maupun pengunjung diajak memahami bahwa merawat dan melestarikan satwa merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.
Keberadaan Taman Satwa tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan Lapas yang lebih asri, produktif, edukatif, dan humanis.
Bagi para pengunjung, taman ini memberikan pengalaman tambahan selama berada di lingkungan Lapas. Mereka tidak hanya datang untuk melakukan kunjungan, tetapi juga dapat memperoleh wawasan mengenai pentingnya menjaga satwa serta lingkungan sekitar.
Sementara bagi petugas dan warga binaan, taman tersebut menjadi ruang pembelajaran yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Melalui inovasi ini, Lapas Kelas IIA Banda Aceh berharap Taman Satwa dapat menjadi sarana edukasi dan literasi sekaligus memperkuat program pembinaan kemandirian.
Pada akhirnya, keberadaan taman tersebut diharapkan bukan sekadar menjadi fasilitas pelengkap di lingkungan Lapas, melainkan menjadi ruang bagi warga binaan untuk belajar, berkarya, membangun karakter, dan mempersiapkan keterampilan sebelum kembali diterima di tengah masyarakat.(*)
