Jeumpa Media | Di era yang serba mahal ini, anak muda harus berjuang berkali-kali lipat lebih keras agar dapat memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Namun, beberapa daerah di Indonesia justru memiliki defisit gaji hingga sulit untuk hidup layak.
Memiliki pendapatan yang tidak dapat mengimbangi jumlah kebutuhan adalah hal yang mengkhawatirkan. Sehingga masyarakat harus melakukan pekerjaan lain agar taraf hidupnya dapat terpenuhi.
Berikut daerah-daerah di Indonesia dengan pendapatan rendah hingga para pekerjanya dikhawatirkan akan sulit hidup layak seperti yang dilansir dari AyoBandung.
1. Yogyakarta
Kota yang dijuluki sebagai kota perjuangan ini adalah kota pertama yang masyarakatnya mengalami defisit gaji hingga Rp 528.496/orang/bulan.
Dijelaskan bahwa rata-rata gaji di wilayah Yogyakarta adalah Rp 2.660.000 per bulan, sedangkan pengeluaran setiap bulan berkisar sekitar Rp 3.170.000 per bulan.
2. Bengkulu
Tahun ini, gaji paling rendah di Bengkulu adalah Rp 2.507.079 per bulan dan UMK telah naik sebesar 3,82 persen menjadi Rp 2.701.256 per bulan.
Gaji tersebut ternyata masih belum cukup. Hingga masyarakat Bengkulu mengalami defisit gaji sebanyak Rp 65.637/orang/bulan.
3. Riau
Upah Minimum Provins (UMP) di Provinsi Riau adalah sebesar Rp 3.294.625 setiap bulannya. Sedangkan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) mulai dari Rp 3.294.625 hingga Rp 3.451.584 per bulan.
Sementara gaji kelas menengah rata-rata mengalami defisit sebesar Rp 51.177/orang/bulan dan menyebabkan banyak anak muda di Riau harus tinggal bersama orangtua atau merantau ke daerah lain.
4. Sumatera Barat
UMP 2024 Provinsi Sumatera Barat naik menjadi Rp 2.811.449 per bulan, jumlah ini 2,52 persen lebih banyak dari tahun sebelumnya.
Namun, meski demikian, anak muda di Sumatera Barat tetap mengalami defisit pendapatan sebesar Rp 49.004 per bulan.
Menyebabkan anak muda di Provinsi tersebut harus menambah pendapatan dengan berwirausaha atau membukan usaha kecil-kecilan.
5. Gorontalo
UMP Gorontalo adalah sebesar Rp 3.025.100 per bulan. Meski jumlah ini telah naik 1,19 persen dari tahun lalu, nyatanya para pekerja di Provinsi ini masih mengalami defisit sebesar Rp 36.750 setiap bulannya. (Tasya)
