Jeumpa Media | Banda Aceh – Dalam gelapnya transisi pasca kemerdekaan, saat ideologi berseliweran dan suara kaum muda tenggelam dalam kegaduhan politik, seorang mahasiswa dari Padang Sidempuan memutuskan untuk bertindak. Ia bukan orator ulung, bukan pula pemilik pengaruh besar. Tapi dari tangannya, lahir sebuah organisasi mahasiswa Islam yang kini menjadi salah satu kekuatan intelektual paling berpengaruh di Indonesia: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Namanya Lafran Pane.
Melalui film biografi berjudul Lafran, yang tayang perdana secara nasional pada Juni 2024, publik diajak menyelami lebih dari sekadar nama besar. Film ini mengupas sisi manusiawi dan ideologis Lafran Pane—dari anak lelaki keras kepala yang gelisah, hingga menjadi pemikir muda yang melahirkan gerakan bersejarah.
Setelah tayang di bioskop, pihak Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) sedang melakukan roadshow khusus di 26 kota di Indonesia, salah satunya di Balee Meusuraya Aceh, Kota Banda Aceh, pada Jumat, (25/7/2025).
Dalam kegiatan pemutaran film tersebut, pihak KAHMI mengundang sekira 850 pelajar dari berbagai Sekolah Menengah Atas (SMA) yang ada di Kota Banda Aceh.
“Kami mengundang para siswa karena sesuai dengan harapan film ini dapat menjaring anak-anak muda, terutama mahasiswa islam untuk menonton kisah hidup Lafran. Sehingga dapat memberikan makna sesungguhnya dalam berpikir kritis, membangun fondasi bangsa dan fondasi kepemimpinan,” ujar Co-Produser, Aris Muda dalam penayangan Film Lafran di Gedung Balee Meuseuraya Aceh, Banda Aceh, (25/7/2025).
Sinopsis Film Lafran, Anak Pemberontak dari Tapanuli
Film membuka kisah di kampung halaman Lafran Pane, di Tapanuli Selatan, dengan latar suasana sosial yang patriarkis dan politik kolonial yang represif. Dibesarkan oleh ayahnya, Sutan Pangurabaan Pane—seorang tokoh nasionalis yang juga anggota Volksraad, Lafran kecil ditampilkan sebagai anak penuh amarah, kehilangan, dan kerinduan. Ibunya wafat saat ia masih belia. Rumahnya penuh tekanan nilai dan ekspektasi dari dua kakaknya: Sanusi dan Armijn Pane, dua sastrawan besar tanah air.
Ketika dewasa, Lafran (diperankan dengan apik oleh Dimas Anggara) menunjukkan kecenderungan memberontak. Ia beberapa kali berpindah sekolah, bersitegang dengan sistem yang ia anggap tidak adil, dan nyaris menyerah pada keputusasaan, termasuk ketika ia sempat menjadi petinju jalanan dan aktivis jalanan yang tanpa arah.
Krisis Identitas dan Titik Balik di Yogyakarta
Perubahan arah hidup terjadi saat Lafran kuliah di Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta. Di tengah gejolak republik muda dan pergulatan ideologis, ia menyaksikan bagaimana mahasiswa muslim tercerai-berai, terjebak antara ekstremisme religius dan sekularisme tanpa arah.
Film Lafran menangkap kegelisahan itu lewat adegan-adegan sunyi: dialog internal, diskusi mahasiswa, dan perjumpaan ideologi dilengkapi juga adegan seorang mahasiswa yang duduk diam, berpikir, dan menulis. Lalu mengajak 14 kawannya untuk mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 5 Februari 1947.
Bukan tanpa perdebatan. Lafran bersikeras bahwa organisasi ini tidak akan berafiliasi dengan partai politik dan akan menjadi wadah mahasiswa untuk menyatukan keislaman dan keindonesiaan secara progresif.
Idealisme yang Diuji Zaman
Lafran tidak lama menjabat sebagai Ketua Umum HMI. Ia memilih mundur dan menyerahkan kepemimpinan kepada tokoh lain dari universitas berbeda, untuk menegaskan bahwa HMI bukan milik STI semata. Tindakan ini digambarkan dalam film sebagai bentuk pengorbanan pribadi dan komitmen terhadap prinsip inklusivitas.
Di titik inilah Lafran menjadi lebih dari sekadar film biografi. Ia menjadi refleksi: tentang bagaimana sebuah gagasan, jika dihidupi dengan keyakinan dan integritas, mampu melampaui zaman.
Warisan Sunyi, Jejak yang Kekal
Film ditutup dengan penggambaran sederhana: seorang pria tua di balik layar, menyaksikan generasi baru berbicara tentang nilai, perjuangan, dan perubahan. Lafran Pane wafat pada 24 Januari 1991 di Yogyakarta, tanpa harta, tanpa jabatan politik, tapi dengan warisan pemikiran yang menjelma dalam puluhan ribu kader HMI di seluruh Indonesia.
Pada 2017, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional bagi Lafran Pane. Sebuah pengakuan atas perjuangan intelektual dan moral yang senyap, namun membekas.
“Hal ini menjadi contoh yang baik bagi naak muda. Selain inspiratif, Lafran jug amenjadi tokoh nasional yang tidak haus jabatan dan membangun organisasi untuk kepentingan pribadi,” ujar Mazaya, siswa dari SMKN 1 Banda Aceh pada kesempatan yang sama.
Film Sebagai Cermin Nilai
Disutradarai oleh Faozan Rizal, dengan skenario oleh Jujur Prananto dan Oka Aurora, film Lafran bukan sekadar arsip sejarah. Ia adalah medium edukatif bagi mahasiswa, aktivis, pendidik, dan siapa pun yang ingin memahami bahwa perubahan besar sering dimulai dari ruang-ruang kecil, sunyi, dan pribadi yang gelisah.
Menurut Direktur Utama Film, Musik dan Seni Kementerian Kebudayaan Indonesia, Syaifullah Agam, film Lafran dapat menjadi catatan rekam jejak tokoh yang menginspirasi generasi muda.
“Generasi muda sekarang adalah generasi yang harus betul-betul kita siapkan. Dan media penyampaian pesan melalui tontonan yang berkualtas diharapkan mampu membentuk pola pikir dan memberikan insight yang bermanfaat bagi mereka,” ujarnya.
Lafran Pane membuktikan, bahwa untuk membentuk gerakan yang langgeng, tidak cukup hanya menjadi marah. Harus ada kedalaman berpikir, keberanian bersikap, dan keikhlasan melepaskan.
“Sembari kita berharap kedepannya semoga akn terus bermunculan film-film dan karya dalam bentuk apapun untuk menyampaikan hal yang edukatif dan menginspirasi, terutama generasi muda,” pungkas Syaifullah.*
