Hari Anak Nasional di LPKA: Anak Binaan Juga Punya Hak

Jeumpa Media | Banda Aceh — Dalam peringatan Hari Anak Nasional 2025, Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Banda Aceh menjadi pusat perhatian. Bukan sekadar seremoni, acara ini menjadi pengingat nyata bahwa pemenuhan hak anak juga harus mencakup mereka yang berhadapan dengan hukum.

PKBI Aceh bersama LPKA Kelas II Banda Aceh menggelar rangkaian kegiatan yang melibatkan berbagai stakeholder, mulai dari Ketua TP PKK Aceh Besar Hj. Rita Mayasari, perwakilan Dinas Kesehatan Aceh Besar, hingga unsur kecamatan, Koramil, dan Puskesmas Ingin Jaya. Mereka hadir untuk melihat langsung bagaimana proses pembinaan anak-anak di balik tembok pemasyarakatan dijalankan.

Anak-anak binaan di LPKA Banda Aceh, yang mayoritas menjalani proses hukum akibat persoalan sosial kompleks, tidak sekadar “dipenjara”. Mereka menjalani berbagai aktivitas pembinaan yang berorientasi pada pemenuhan hak: pendidikan kejar paket B dan C, olahraga, kegiatan keagamaan, seni budaya, hingga konseling dan edukasi kesehatan reproduksi dari PKBI Aceh.

Direktur PKBI Daerah Aceh, Wanti Maulidar, menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan hanya agenda tahunan. Ia menyebut LPKA sebagai salah satu contoh institusi pemasyarakatan yang menerapkan pendekatan humanis terhadap anak.

“Di sini anak-anak dibina, bukan dihukum. Mereka diperlakukan sebagai bagian dari keluarga besar yang butuh dukungan, bukan stigma,” ucap Wanti.

Hal senada disampaikan Kepala LPKA Banda Aceh, Yusnaidi, SH, M.Si. Ia menyebut dukungan lintas sektor sangat dibutuhkan dalam membina anak-anak agar mereka bisa kembali ke masyarakat sebagai pribadi bertanggung jawab.

“Kita tidak bisa membiarkan mereka tumbuh dalam stigma. Mereka juga generasi bangsa yang harus kita pulihkan bersama,” ujarnya.

Pesan yang sama disuarakan oleh Plt. Kepala Dinas Kesehatan Aceh Besar, Nelly Ulfiati, SKM, MPH, dan Ketua TP PKK Aceh Besar Hj. Rita Mayasari. Dalam sambutannya, Hj. Rita menekankan pentingnya empati masyarakat terhadap anak-anak pemasyarakatan. “Sebagai ibu, saya merasa mereka juga anak-anak saya. Kita tidak boleh membedakan hak mereka hanya karena status hukum,” ujarnya.

Acara ditutup dengan pertunjukan bakat dari anak-anak binaan serta layanan kesehatan dan konseling. Namun yang paling penting dari peringatan Hari Anak Nasional kali ini bukanlah acaranya, melainkan pesan yang ingin ditegaskan: setiap anak, di mana pun mereka berada, tetap memiliki hak untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi.*

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *