Jeumpa.com | Aceh Utara – Intensitas hujan yang tinggi di sore Kamis sampai malam, 25 Januari 2024 di daerah penggunungan Sawang telah menyebabkan banjir dini hari, 15 hektar areal persawahan warga terendam, Jumat (26/1/2024).
Hujan yang turun berintensitas tinggi lalu membuat sungai sebagai penampung utama aliran air hujan meluap, Sungai (Krueng) Sawang yang mengaliri kawasan Gampong Paya Rabo Lhok saat media ini mengkonfirmasi pihak terkait diketahui mencapai ketinggian 2 meter dan menggenangi hampir 100 rumah warga di gampong tersebut .
Wilayah yang paling parah terimbas banjir di Gampong Paya Rabo Lhok adalah daerah Dusun Barona.
Banjir sangat merugikan masyarakat, terganggunya aktivitas keseharian dan merusak areal mata pencaharian warga berupa sawah. Padahal persawahan warga baru mulai memasuki musim tanam, namun banjir telah menggenangi bibit padi yang baru ditanami sehingga sangat merugikan, papar Nurmasyitah (56) selaku warga yang rumah dan sawahnya turut terendam banjir.
Aparatur pemerintah Gampong Paya Rabo Lhok, Husni, selaku Kaur Pemerintah Gampong Paya Rabo Lhok Kecamatan Sawang mengatakan sawah yang terendam berkisar antara 15 hektar lebih. Jika banjir tidak surut sesegera mungkin di lahan masyarakat tersebut. Otomatis padi akan mati.
“Dengan matinya padi, wargat harus menanam kembali dari awal pada musim tanam tahun 2024 ini,” ungkap Husni kepada Jeumpa.com.
Kerugian akibat meluapnya air Krung Sawang bukan hanya itu saja. Kerusakan barang masyarakat yang pada saat banjir tidak terselamatkan juga memperparah kerugian yang diderita.
Setiap tahun masyarakat akan merasakan banjir saat musim hujan. Pada Desember tahun 2023 warga juga mengalami gagal panen. Dan hampir setiap banjir berdampak meruginya warga yang dominan berprofesi petani.
Selain itu, banjir juga menciptakan lingkungan yang tidak sehat, mudah terserang penyakit yang umumnya akibat dampak banjir.
Persoalan ini butuh perhatian pemerintah untuk mencari cara pencegahan banjir agar tidak lagi merugikan penduduk terdampak akibat pembangunan yang belum sempurna mengatasi perubahan musim penghujan. (Nw).
